Share

Drama Penalti Paling Menegangkan di Final Liga Champions

Daniel Setiawan, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2015 13:58 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 04 51 1160094 drama-penalti-paling-menegangkan-di-final-liga-champions-Gq5BFiVO9V.jpg Drama penalti paling dramatis di ajang Liga Champions (Foto: AFP)

SETIAP tim besar di Eropa mendambakan trofi Liga Champions. Bahkan bisa berlaga di ajang tertinggi sepakbola Eropa saja sudah merupakan impian banyak tim di Benua Biru. Ketika satu tim dapat menggapai laga tertinggi, maka apapun akan dikerahkan, termasuk ketika harus menjalani adu penalti.

Liga Champions dan adu penalti ibarat dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, ada enam laga final yang berakhir dengan adu keberuntungan di kotak 12 pas. Okezone merangkum enam laga final yang berakhir dengan adu penalti, dari berbagai sumber.

1. Final 1995-1996 – Ajax Amsterdam vs Juventus (1-1, Penalti 4-2 untuk Juve)

Laga final musim 1995-1996 mempertemukan juara bertahan Ajax Amsterdam melawan wakil Italia, Juventus. Pertandingan yang digelar di Stadion Olimpico, Roma, tersebut berakhir 1-1 di waktu normal. Meski sempat unggul di menit 12 melalui Fabrizio Ravanelli, Juve lengah dan kecolongan jelang akhir babak pertama melalui gol Jari Litmanen.

Tambahan 2x15 menit ternyata tidak cukup untuk kedua tim mencetak gol tambahan. Dewi Fortuna menaungi Juventus pada babak adu penalti. Empat eksekutor La Vecchia Signora melaksanakan tugas dengan sempurna. Sementara dua pilar Ajax, Edgar Davids dan Sonny Silooy gagal merobek jala Angelo Peruzzi. Juve menang 4-2, sekaligus mengamankan gelar kedua sepanjang sejarah klub.

2. Final 2000-2001 – Bayern Munich vs Valencia (1-1, Penalti 5-4 untuk Munich)

Dua klub sama-sama membawa memori kelam saat saling bertemu di partai final yang berlangsung di Stadion San Siro, Milan. Bayern Munich membawa memori kelam 1999 saat dikalahkan oleh Manchester United. Sementara untuk Valencia, bayang-bayang kekalahan telak dari Real Madrid pada final musim 1999-2000 masih menghantui Pablo Aimar dan kolega.

Setiap gol pada pertandingan bertajuk L’Opera Del Calcio itu seluruhnya berasal dari titik putih. Pada waktu normal, Valencia unggul terlebih dahulu melalui penalti Gaizka Mendieta pada menit dua. Raksasa Bavaria membalas pada babak menit 50 melalui sepakan Stefan Effenberg yang juga dari titik putih. Skor 1-1 tidak berubah hingga babak perpanjangan waktu.

Sembilan gol tercipta pada adu tos-tosan kedua tim. Dari lima penendang pertama, kedua tim sama-sama gagal di dua kesempatan. Sial untuk Kelelawar Mestalla, eksekusi penendang terakhirnya, Mauricio Pellegrino, dapat dibaca dengan baik oleh Oliver Kahn. Munich keluar sebagai juara dengan kemenangan 5-4.

3. 2002-2003 – Juventus vs AC Milan (0-0, Penalti 3-2 untuk Milan)

Gemuruh 63 ribu pasang mata di Old Trafford terhenti sejenak ketika dua tim asal Italia, Juventus dan AC Milan, memasuki babak adu penalti setelah keduanya bermain imbang 0-0 di waktu normal.

Berbagai nama pesepakbola legendaris menghiasi starting line-up kedua kesebelasan. Juventus memiliki Alessandro Del Piero, David Trezeguet, dan Gianluigi Buffon. Sementara Rossoneri saat itu masih diperkuat duo bomber mematikan Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi, dan kiper legendaris asal Brasil, Dida. Nama lainnya seperti Rui Costa, Clarence Seedorf, Mauro Camoranesi, hingga Gianluca Zambrotta juga merumput di laga final tersebut.

Keadaan sempat 1-1 pada adu penalti setelah dua eksekutor masing-masing klub gagal menceploskan bola. Namun, Dewi Fortuna tidak menaungi La Vecchia Signora kali ini. Milan memiliki momentum setelah Zalayeta dan Montero berturut-turut gagal. Dua eksekutor terakhir mereka, Alessandro Nesta dan Schevchenko mengeksekusi bola dengan sempurna. Milan akhirnya menang 3-2 dan berhak untuk gelar keenam mereka.

4. 2004-2005 – AC Milan vs Liverpool (3-3, Penalti 3-2 untuk Liverpool)

Pertemuan kedua klub menciptakan salah satu final paling dramatis di ajang Liga Champions. Satu tangan Rossoneri sebenarnya telah menggenggam trofi juara pada babak pertama. Saat itu mereka unggul 3-0 atas The Reds. Masuk babak kedua, Liverpool bangkit dan mencetak tiga gol balasan, serta memaksa pertandingan harus ditentukan dari babak adu penalti.

Atmosfir Stadion Atatürk Olimpiyat di Istanbul tampaknya membuat para pilar Rossoneri gugup. Dua penendang pertama Milan, Serginho dan Andrea Pirlo, gagal menuntaskan dengan baik. Sebaliknya di kubu The Reds, Dietmar Hamann dan Djibril Cisse mengeksekusi penalti dengan sempurna. Klub asuhan Rafael Benitez akhirnya memastikan gelar kelimanya setelah eksekusi Schevchenko ditepis oleh Jerzy Dudek. The Anfield Gang menang 3-2.

5. 2007-2008 – Manchester United vs Chelsea (1-1, Penalti 6-5 untuk United)

Klub Premier League begitu mendominasi kompetisi Liga Champions pada musim tersebut. Tiga klub Inggris bahkan lolos ke semifinal: Manchester United, Chelsea, dan Liverpool. Klimaksnya, United dan Chelsea menciptakan all English final pada musim itu.

Hujan di Stadion Luzhniki, Rusia, menjadi pengiring laga final yang disaksikan 67 ribu penonton itu. Meski pada saat itu Chelsea dalam kondisi pincang setelah ditinggal sang arsitek Jose Mourinho, laga final saat itu tetap berjalan sengit. Setan Merah unggul lebih dulu melalui sundulan Cristiano Ronaldo, namun The Blues memberi respon melalui Frank Lampard.

Skor imbang hingga extra time memaksa keduanya untuk melakoni adu penalti. Fans Setan Merah dibuat pasrah ketika pemain andalannya saat itu Ronaldo gagal menceploskan bola ke gawang Petr Cech. Sebaliknya, empat eksekutor Chelsea melenggang mulus. Malang untuk The Blues, eksekutor penentu, John Terry, terpeleset dan bola melebar. Klimaks untuk United ketika Edwin van Der Sar mengagalkan tendangan Nicolas Anelka. United menang 6-5 dan memastikan trofi ketiga di ajang Liga Champions.

6. 2011-2012 – Bayern Munich vs Chelsea (1-1, Penalti 4-3 untuk Chelsea)

Laga final musim 2011-2012 menempatkan Bayern Munich sebagai unggulan. Bagaimana tidak? Raksasa Bavaria mendapatkan keuntungan karena laga final dihelat di Allianz Arena, markas Munich. Selain itu sang lawan, Chelsea, datang bersama pelatih sementara yang minim pengalaman, Roberto Di Matteo.

Bayern Munich jelas tidak menyangka jika The Blues ternyata mampu mengimbangi perlawanan mereka. Sang juara Bundesliga baru bisa mencetak gol pada menit 83 dari Thomas Muller. Meski berstatus underdog, Chelsea tidak mau menyerah. Sundulan Didier Drogba pada menit 88 membungkam skuad Bavarian dan para supporternya yang memadati stadion.

Munich percaya diri menghadapi babak adu penalti, sebab pada babak semifinal mereka tidak kesulitan menghempaskan Real Madrid melalui adu tos-tosan. Sayang, keberuntungan ternyata tidak memihak pasukan Jupp Heynckes. Dua eksekutor terakhir mereka, Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger gagal mengeksekusi penalti. Sebaliknya, meski penendang pertama Chelsea, Juan Mata gagal, namun empat eksekutor berikutnya berhasil menuntaskan tugas dengan baik. Chelsea menang 4-3 dan mendapat trofi perdana mereka di Liga Champions.

(fap)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini