PROFIl Hossam Hassan, pelatih Tim Nasional (Timnas) Mesir yang bersinar di Piala Dunia 2026 menarik untuk dibahas. Terlebih namanya saat ini tengah ramai dibicarakan karena sempat menuduh Argentina dibantu wasit untuk menang di Piala Dunia 2026.
Seperti yang diketahui, langkah gemilang skuad berjuluk The Pharaohs ini harus terhenti secara dramatis di babak 16 besar setelah takluk 2-3 dari sang juara bertahan, Argentina. Laga yang berlangsung dengan tensi tinggi itu dihelat di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, pada Selasa, 7 Juli 2026 malam WIB.
Kekalahan tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi sang pelatih kepala, Hossam Hassan. Sosok yang lahir di Helwan pada 10 Agustus 1966 ini meradang dan secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit asal Prancis, Francois Letexier, yang dinilai telah merugikan timnya secara tidak adil.
Sebelum menduduki kursi kepelatihan, pria berusia 59 tahun ini merupakan salah satu striker paling mematikan dalam sejarah sepak bola Mesir. Sepanjang kariernya sebagai pemain yang berakhir pada 1 Januari 2008 di Ittihad Alexandria, Hassan telah mengoleksi 14 gelar Liga Mesir, 5 Piala Mesir, dan 2 Piala Super Mesir, di mana sebagian besar kejayaannya diraih bersama Al Ahly.
Ketajaman Hassan juga terbukti di level internasional dengan catatan 176 caps dan 68 gol untuk Timnas Mesir. Ia menjadi pilar penting saat Mesir merengkuh tiga trofi Piala Afrika (1986, 1998, 2006) serta menjadi bagian dari skuad yang berkompetisi di Piala Dunia 1990, meski saat itu langkah mereka terhenti di fase grup.
Kini, dengan mengantongi lisensi kepelatihan CAF Pro, Hassan mengukir sejarah baru. Ia resmi menjadi orang Mesir pertama yang berhasil mencapai putaran final Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih, sebuah pembuktian dedikasi panjangnya untuk sepak bola nasional.
Ditunjuk sebagai pelatih sejak 6 Februari 2024 untuk menggantikan Rui Vitoria, Hassan berhasil membawa formasi andalannya 4-2-3-1 terbang tinggi. Mohamed Salah dan kawan-kawan tampil perkasa di babak kualifikasi tanpa tersentuh kekalahan, hingga akhirnya melaju ke putaran final dan lolos dari fase grup dan menyingkirkan Australia via adu penalti di babak 32 besar.
Namun, dongeng indah Mesir di Amerika Utara mendadak sirna saat bersua Argentina. Sempat memimpin nyaman 2-0 hingga menit ke-79, keunggulan Mesir buyar akibat kebangkitan Argentina yang diinspirasi Lionel Messi, sebelum akhirnya sundulan Enzo Fernandez mengunci kemenangan lawan di akhir laga.
Hassan menilai hasil pertandingan tersebut telah dinodai oleh faktor non-teknis, termasuk dugaan tekanan kubu Argentina kepada wasit sebelum laga dimulai. Ia memprotes keras dua klaim penalti Mesir yang diabaikan serta sebuah gol krusial yang dianulir oleh VAR, yang sempat membuatnya diganjar kartu kuning di babak tambahan waktu.
"Saya akan pulang dan tidak akan menonton pertandingan lagi dari turnamen ini. Apa yang terjadi pada kami tidak adil. Kami seharusnya mendapat penalti, sebuah gol dianulir, dan saya tidak tahu mengapa dianulir,” ungkap Hassan, mengutip dari ABC, Rabu (8/7/2026).
"Kami telah diperlakukan tidak adil hari ini. Kami telah mengalami ketidakadilan. Kami lebih baik dalam segala hal, tetapi hasilnya dipengaruhi oleh faktor internal di lapangan, di dalam pertandingan, dan faktor eksternal sebelum pertandingan,” tambahnya.
"Tampaknya ada tekanan yang diberikan dari pihak Argentina kepada wasit yang menyebabkan hasil ini,” lanjut Hassan.
Saking kecewanya, mantan pelatih Timnas Yordania ini menyatakan enggan menonton sisa turnamen dan memilih langsung pulang. Hassan menegaskan sepak bola telah kehilangan kredibilitasnya, meski di sisi lain ia mengaku tetap sangat bangga atas perjuangan luar biasa yang ditunjukkan oleh para pemainnya.
(Rivan Nasri Rachman)