NAMA Loris Arnaud mungkin tak setenar Kylian Mbappe atau Lionel Messi. Namun bagi pencinta sepak bola Indonesia, striker asal Prancis ini punya cerita tersendiri, dari akademi Paris Saint-Germain hingga menjadi momok bagi para kiper di Liga 1.
Loris Arnaud bukan sekadar pemain asing biasa yang singgah di Indonesia. Ia merupakan jebolan akademi PSG yang sempat merasakan atmosfer tim utama klub ibu kota Prancis itu.
Arnaud tercatat memperkuat skuad PSG antara 2008 hingga 2010, dengan debut di musim 2007/2008. Pada musim perdananya, ia berhasil mencetak tiga gol sekaligus dan turut membantu PSG meraih trofi Coupe de la Ligue.
Selama berseragam Les Parisiens, Arnaud berkompetisi bersama sejumlah nama besar era itu seperti Pauleta, David N'Gog, dan Mamadou Sakho.
Namun kariernya di Paris tidak bertahan lama. Ia kemudian mencoba mengadu nasib ke berbagai klub di Eropa dan Asia sebelum akhirnya tiba di Indonesia.
Tahun 2017 menjadi babak paling gemilang dalam karier Loris Arnaud di Tanah Air. Ya, Persela Lamongan merekrutnya untuk memperkuat lini depan di ajang Liga 1, dan hasilnya luar biasa.
Dalam 29 penampilan, Arnaud memborong 15 gol ditambah tujuh assist, catatan yang menempatkannya sebagai salah satu striker asing paling produktif di Liga 1 musim itu.
Kombinasi fisik yang kuat, pergerakan cerdas di kotak penalti, dan ketajaman finishing akhir membuat Arnaud sulit dihentikan. Performanya yang konsisten membuat namanya menjadi rebutan klub-klub Liga 1 pada musim berikutnya.
Penampilan impresif bersama Persela membuat Arnaud diminati Tira Persikabo pada musim 2018/2019. Sayangnya, masa baktinya bersama Persikabo jauh dari harapan. Arnaud kesulitan menjaga konsistensi dan hanya mampu menyumbangkan tujuh gol serta dua assist dalam semusim, dimana jauh di bawah standar yang ia tunjukkan sebelumnya.
Penampilannya pun kalah sorotan dibanding rekan setimnya, Ciro Alves. Tidak lama berselang, Arnaud harus meninggalkan Indonesia lebih cepat dari akibat cedera Tendon Achilles yang cukup serius.
Sepulang dari Indonesia, Arnaud menjalani pemulihan intensif di Clairefontaine, pusat medis sepak bola terbaik di Eropa. Proses rehabilitasi berjalan lancar dan ia dinyatakan pulih sepenuhnya setelah beberapa bulan.
Setelah sembuh, ia kembali berlatih bersama AS Poissy, klub yang berkompetisi di kasta bawah Liga Prancis, sembari menanti tawaran bermain.
(Dian AF)