Lebih lanjut, Chadwick menjelaskan ambang batas untuk melakukan penjadwalan ulang sangatlah tinggi. Penundaan kemungkinan besar baru akan dipertimbangkan jika serangan mulai merambah ke wilayah Eropa dan Amerika Utara.
Selain itu, gangguan pada jalur penerbangan internasional serta stabilitas pasokan minyak dunia dapat menjadi faktor praktis yang memaksa FIFA untuk mencari pengaturan alternatif. Di sisi lain, aspek politik dalam negeri AS juga memainkan peran besar.
Pemerintahan Donald Trump diprediksi akan menentang keras ide penjadwalan ulang karena hal tersebut bisa dianggap sebagai bentuk kekalahan politik.
Meski FIFA melalui Gianni Infantino masih menegaskan komitmen untuk menyelenggarakan turnamen yang aman dan inklusif bagi semua tim, situasi dinamis di Timur Tengah tetap menjadi variabel yang bisa mengubah segalanya dalam waktu singkat.
(Rivan Nasri Rachman)