MADRID – Zinedine Zidane menerapkan taktik Catenaccio ala Italia atau pertahanan gerendel saat Real Madrid bertandang ke markas Liverpool di leg II perempatfinal Liga Champions 2020-2021, Kamis 15 April 2021 dini hari WIB. Hasilnya pun positif.
Serbuan yang dilakukan Mohamed Salah dan kawan-kawan tidak membuahkan hasil. Setelah melalui 90 menit pertandingan, skor akhir Liverpool vs Real Madrid adalah 0-0.
Alhasil, Real Madrid lolos ke semifinal Liga Champions 2020-2021 karena pada leg I menang 3-1 atas Liverpool.
"Kami rasa kami menangani pertandingan ini dengan baik, kami dapat mengendalikan badai dan bisa bangga dengan apa yang sudah kami pertontonkan," kata Zidane kelar laga Liverpool vs Real Madrid, mengutip dari BBC Sport.
Ketiadaan pemain tajam sekelas Cristiano Ronaldo, disinyalir memaksa Zidane menerapkan pola pertahanan gerendel bersama Real Madrid. Sekarang yang jadi pertanyaan, ada alasan lain kenapa Zidane menerapkan strategi di atas?
BACA JUGA: Tendang Cristiano Ronaldo, Juventus Boyong Moise Kean dan Mauro Icardi?
Apakah strategi Catenaccio dipilih karena dirinya sedang bersiap menjadi pelatih Juventus, tim yang kental dengan strategi Catenaccio? Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Zidane merupakan target utama untuk dijadikan pelatih Juventus musim depan.
Setelah membawa Real Madrid menang 3-1 atas Liverpool di leg I perempatfinal, Zidane pun memberi kode akan melanjutkan karier bersama Juventus. Pria asal Prancis ini mengatakan Juventus dan Italia selalu ada di hatinya.
“Italia selalu ada di hati saya, Juventus selalu penting bagi saya. Kembali (ke Juventus)? Saya tidak tahu (sambil tertawa). Saya saat ini di Real Madrid, namun mari kita lihat,” kata Zidane mengutip dari Marca.
Ada alasan kuat kenapa Juventus membidik Zidane sebagai suksesor Andrea Pirlo yang digadang-gadang segera dipecat. Hal itu karena Zizou –sapaan akrab Zidane– piawai membawa tim asuhannya juara Liga Champions, gelar yang terakhir kali dimenangkan Juventus pada 1995-1996.
Semenjak Liga Champions berganti format pada 1992-1993, Zidane tercatat sebagai pelatih yang paling banyak memenangkan trofi si Kuping Besar, yakni tiga kali. Karena itu, menarik menanti siapa yang jadi pelatih Juventus musim depan. Akankah Zidane, pelatih lain atau justru tetap ditempati Pirlo?
(Rachmat Fahzry)