“Saya tumbuh di area tempat semua orang menonton sepakbola Liga Inggris. Anda mendukung Man United atau Arsenal atau Chelsea saat itu. Di rumah saya, saudara laki-laki saya, almarhum saudara perempuan saya, mereka mendukung Manchester United.
“Ketika saya besar nanti, saudara laki-laki saya mulai membawa saya ke pusat tontonan untuk menonton Manchester United. Akan tetapi, Saya harus menabung,” kata Ighalo, mengutip dari laman resmi Man United, Rabu (30/12/2020).
“Sebelum pergi ke sekolah, ibu saya akan memberi uang jika aku ingin makan siang. Mulai Senin saya menabung karena saya ingin menonton Man United. Meskipun saya akan menggunakan sebagian uang untuk makan siang, saya akan menabung sisanya karena akhir pekan ada pertandingan,” ucapnya.
"Terkadang Anda merasa lapar karena tidak makan dengan benar, tetapi Anda tidak ingin melewatkan pertandingan di akhir pekan. Anda ingin melihatnya sendiri. Semangat itu. Anda mulai menabung hingga akhir pekan,” ujar pemain asal Nigeria itu.
“Saat pertandingan dimulai, kadang cuaca sangat panas karena tidak ada penyejuk ruangan, lalu Anda harus melepas baju dan mengipasi diri sendiri. Kemudian, setelah pertandingan berakhir, kami berdebat tentang pertandingan dari pusat tontonan ke rumah kami,” tuturnya.
"Kadang-kadang saya menangis jika Manchester United kalah. Anda menangis karena Anda pulang dan melihat orang-orang berdebat dan mengatakan hal-hal buruk kepada Anda. Kadang-kadang saya meneteskan air mata karena Anda tidak ingin tim Anda kalah. Betapa gilanya waktu itu,” ucap Ighalo.
(Rachmat Fahzry)