LIVERPOOL – Kisah hidup Jurgen Klopp cukup menarik untuk dikulik. Manajer Liverpool itu mengaku kariernya sebagai pelatih merupakan keinginan dari mendiang ayahnya, Norbert. Sayangnya, ketika sukses menjadi pelatih, ayahnya sudah meninggal.
Roda kehidupan Jurgen Klopp seperti berada di atas dalam setahun terakhir. Pria berkebangsaan Jerman itu berhasil mengubah peruntungan dari spesialis runner-up menjadi seorang pemenang. Dalam setahun terakhir, ia mengantar Liverpool merebut dua trofi penting.
Pertama, Liga Champions 2018-2019 berhasil direngkuh usai menaklukkan Tottenham Hotspur dengan skor 2-0 pada babak final. Kedua, Jurgen Klopp membawa Si Merah mengakhiri puasa 30 tahun trofi Liga Inggris. Kedua pencapaian tersebut merupakan buah kerja kerasnya membangun skuad sejak 2016.
Baca juga: Ini Penyebab Liverpool Tak Mampu Rekrut Jadon Sancho
Dalam sebuah wawancara bersama anak asuhnya, Andy Robertson, Jurgen Klopp mengaku dirinya menjadi pelatih karena dorongan sang ayah. Namun, ketika pada akhirnya kesempatan menjadi pelatih datang, Norbert meninggal dunia.
“Ayah tidak pernah melihat saya sebagai seorang pelatih. Dia meninggal dunia empat bulan sebelum saya menjadi seorang pelatih. Dia adalah pelatih juga. Jika Anda bertanya padanya, dia pasti akan bilang Jurgen harus jadi pelatih,” papar Jurgen Klopp, dikutip dari The Sun, Kamis (30/7/2020).
“Dia terus mendorong saya sepanjang karier. Dia tidak ragu-ragu dalam mengkritik. Sekarang, ketika saya benar-benar berkarier sebagai pelatih, dia tidak pernah melihatnya,” sambung pria kelahiran Stuttgart tersebut.
Norbert memang punya pengaruh besar dalam karier Jurgen Klopp. Dari ayahnya pula, kecintaan terhadap sepakbola muncul. Meski berprofesi sebagai sales, Norbert tetap bermain sepakbola di level amatir. Kecintaan itu turun kepada Jurgen.
Kepergian Norbert diakui Klopp cukup sulit untuk diterimanya. Apalagi, belakangan ini dia menyadari semakin mirip dengan sang ayah ketika bercermin. Ia mengklaim selalu mirip dengan ibunya, tetapi entah mengapa, kini justru lebih mirip Norbert.
“Sejujurnya, sulit melewati masa-masa itu. Yang aneh, saya berusia 53 tahun. Jika duduk dalam sudut tertentu saat bercermin, saya benar-benar ketakutan karena terlihat sangat mirip dengan ayah,” sambung pria berkacamata itu.
“Saya tidak pernah terlihat mirip dengan ayah. Hampir sepanjang hidup, saya terlihat mirip dengan ibu. Secara tiba-tiba, semuanya berubah. Sungguh gila,” tutup mantan pelatih Borussia Dortmund tersebut.
(Mochamad Rezhatama Herdanu)