AWALNYA, kemenangan di sepakbola belum dihargai tiga poin. Tim yang meraih kemenangan hanya mendapatkan dua poin. Kemenangan dihadiahi tiga poin baru berlaku di musim 1995-1996 (khusus di Liga Champions).
Setelah kemenangan dihargai tiga poin, banyak klub yang lolos ke 16 besar Liga Champions dengan menyentuh angka dua digit. Ambil contoh di Liga Champions 2017-2018. Sebanyak 15 dari 16 klub yang lolos ke perdelapanfinal, mengoleksi dua digit poin. Hanya Sevilla (9 poin) yang gagal menyentuh barier tersebut.
Namun ternyata, Sevilla bukanlah klub dengan koleksi poin terminim yang melaju ke 16 besar Liga Champions. Status tersebut dipegang Zenit St Peterburg pada 2013-2014 dan AS Roma (2015-2016).
BACA JUGA: SOCCERPEDIA: Klub Paling Produktif di Fase Grup Liga Champions
Saat itu, baik Zenit dan Roma sama-sama hanya mengemas enam poin. Pada 2013-2014, Zenit tergabung di Grup G bersama Atletico Madrid, FC Porto dan Austria Wina. Dari enam pertandingan yang dijalani, wakil asal Rusia itu hanya mengemas satu menang, tiga imbang dan dua kalah.
Satu-satunya kemenangan Zenit tercipta di kandang Porto setelah menang 1-0 lewat gol tunggal Alexander Kerzhakov. Setelah melalui enam pertandingan, Zenit finis di bawah Atletico Madrid yang mengoleksi 16 angka. Sementara itu, Porto dan Austria berturut-turut duduk di posisi tiga dan empat dengan perolehan lima poin.
Sementara pada 2015-2016, Roma mengalami hasil sama dengan Zenit. Dari enam pertandingan, Giallorossi –julukan Roma– hanya mengemas satu menang, tiga imbang dan dua kalah.
BACA JUGA: SOCCERPEDIA: Pesepakbola Tertua yang Tampil di Final Liga Champions
Kala itu, Roma tergabung di Grup E bersama Barcelona, BATE Borisov dan Bayer Leverkusen. Satu-satunya kemenangan Roma racikan Rudi Garcia diraih saat menjamu Leverkusen. Saat itu, Mohamed Salah dan kawan-kawan menang 3-2.
Namun, kiprah Zenit dan Roma sama-sama terhenti di 16 besar. Zenit takluk 4-5 dari Borussia Dortmund, sedangkan Roma dibungkam Madrid dengan agregat 0-4.
(Ramdani Bur)