“MIA SAN MIA Bayern Munich!!!...Mia San Meisters Bayern Munich!!!...Mia San Mia Triple Bayern Munich!!!” Ungkapan ini jelas merujuk pada satu raksasa Eropa asal Jerman, Bayern Munich. “Mia San Mia…Kami adalah Kami” sebagai ungkapan kebanggaan tiap-tiap manusia Bavaria atas upaya Bayern menguasai tak hanya daratan Eropa!
2013 disebut tahun milik Die Roten. Tak salah memang setelah empat trofi sekaligus diraup Bayern di tahun naga air ini. Rinciannya dua trofi domestik (DFB-Pokal dan Bundesliga) serta dua gelar Eropa (Champions League 2012/13 dan Super Eropa 2013), terlepas dari sebiji gelar tambahan dari ajang Piala Dunia Antar Klub yang belum lama ini mereka bawa pulang dari Afrika Utara.
Raksasa Jerman ini bangkit dari tidurnya setelah bertahun-tahun lamanya. Klimaksnya adalah final meladeni tim sesama Bundesliga, Borussia Dortmund yang mereka bekap, 2-1 di Wembley akhir Mei lalu, sebagai penutup Liga Champions edisi ke-58 yang sebelumnya menghampar 125 partai.
Terakhir kali FC Hollywood menggenggam trofi “The Big Ear” ini sudah terbilang lama – 2001 lalu yang dimenanginya atas Valencia via adu penalti. Trofi ini jadi yang kelima sepanjang sejarah dan jadi kado pamungkas paling manis buat arsitek mereka, Jupp Heynckes sebelum meninggalkan Arjen Robben Cs.
Bicara perjalanan sejak musim panas 2012, Bayern hanya mendapat kemudahan di fase Grup. Hanya menderita sekali kalah dan sekali imbang, Bayern lolos sebagai juara Grup F atas Valencia, BATE Borisov dan LOSC Lille. Tapi langkah mereka bak mendaki gunung terjal sesampainya di babak knock-out.
Tahap demi tahap, Bayern mesti melewati hadangan tim-tim kuat macam Arsenal, Juventus hingga Barcelona yang kala itu hegemoninya masih dalam period puncak. Dortmund yang jadi lawan Bayern di laga pamungkas juga terbilang jadi kejutan tersendiri. Lolos dari Grup maut yang berisikan Real Madrid, Manchester City dan Ajax Amsterdam, Die Borussen tampil menjuarai Grup.
Kejutan mereka mencapai klimaks ketika bersua Los Blancos di semifinal dengan ambisi yang on-fire memetik capaian La Decima mereka. Robert Lewandowski Cs bikin tercengang banyak pihak dengan menyingkirkan Cristiano Ronaldo dkk dengan agregat 4-3.
Kendati begitu, seperti yang sempat dipaparkan di paragraf ketiga di atas, armada asuhan Jürgen Klopp itu mesti menyerah 1-2 di laga puncak dari seteru mereka, Bayern Munich. Merasa tak puas dengan raihan trofi Liga Champions, Bayern pun membidik gelar berikutnya – UEFA Super Cup, sebagai penasbihan paling afdhol sebagai penguasa sejati Benua Biru.
Lawannya, tak lain adalah kampiun Europa League, tim yang juga pernah menghadirkan bencana di Liga Champions edisi 2011/2012 – Chelsea. The Blues sendiri “tercebur” ke pentas kasta kedua Eropa itu lantaran kalah saing di fase Grup E Liga Champions musim lalu dari Juventus dan Shakhtar Donetsk.
Hanya mampu finis di tempat ketiga urutan Grup, tim asal London Barat itu pun terpaksa “degradasi”. Namun Frank Lampard Cs merasa perjalanan mereka di Europa League sebatas ajang hiburan semata. Chelsea juga ternyata serius meladeni laga demi laga sedari babak 32 besar – spot otomatis tim peringkat tiga babak Grup Liga Champions.
Di panggung kelas dua ini pun jangan sangka Chelsea mendapat lawan-lawan yang terkesan mudah. Langkah mereka senantiasa dihadang sejumlah tim yang sebelumnya juga terbilang langganan di Liga Champions. Sebut saja Sparta Prague, Steaua Bucuresti, Rubin Kazan, FC Basel hingga SL Benfica di partai puncak.
Skor tipis 2-1 di Amsterdam Arena pada 15 Mei lalu atas wakil Portugal itu, setidaknya memberi kebanggaan tersendiri buat The Pensioners. Sejak berdiri 108 tahun silam, baru kali ini Chelsea mampu melengkapi catatan prestasi Eropa mereka yang sebelumnya juga pernah memetik gelar dua trofi Piala Winners, satu titel Liga Champions, Piala Super Eropa dan tahun 2013 – trofi Europa League.
Dengan begitu, sampailah pada penentuan siapa yang sebenarnya bisa mengusung dada lebih tegap di belantara sepakbola Eropa pada final istimewa antara kampiun Liga Champions vs Europa League. Eden Arena, Praha (Rep. Ceska) jadi arena pertarungan kedua raksasa ini, 30 Agustus lalu.
Aroma balas dendam amat terasa jelang bentrokan. Betapa tidak, Bayern benar-benar ingin bikin perhitungan setelah 2012 silam, trofi Liga Champions mesti dibawa lari Chelsea ke London Barat pada final episode sebelumnya yang notabene, terjadi di kandang kebanggaan Die Rote Teufel – Allianz Arena. Pemain serta fans Bayern benar-benar hilang muka setelah Chelsea memenangi final via adu penalti.
Final Bayern kontra Chelsea juga menandai pertarungan pertama yang mempertemukan dua finalis Liga Champions musim sebelumnya sejak Piala Super pertama kali digelar 38 tahun silam. Untuk kali pertama pula, kedua tim tak ditukangi dua pelatih yang sebelumnya mengantarkan mereka ke tangga juara di pentas masing-masing – Heynckes di pihak Bayern dan Rafael Benítez di kubu Chelsea.
Saat sama-sama bersua, Bayern sudah mulai diarsiteki Josep “Pep” Guardiola. Adapun Chelsea, kedatangan lagi gaffer flamboyan mereka, José Mourinho yang menggusur kursi kepelatihan Benítez. Selain atmosfer revans, topik pertemuan Pep dan Mou ini pun jadi buah bibir “sampingan” yang tak luput dari perhatian publik lantaran punya pengalaman menarik saat keduanya juga saling berseteru di kancah sepakbola Spanyol antara Barca dan Madrid ketika masih di tangan mereka.
Jalannya laga, benar-benar mengingatkan banyak orang layaknya final 2012 lalu – kendati keadannya berbalik 180 derajat. Jika di final 2012 lalu, Bayern yang mencetak gol lebih dulu. Tapi di final Super Eropa ini Chelsea lebih dulu memimpin via gol Fernando Torres yang kemudian, dibalas Franck Ribéry. Dua gol lainnya menyusul dan terjadi tak kalah bikin tegang di dua babak tambahan waktu hingga akhirnya, kembali harus ditentukan adu kuat “tos-tosan” dari titik dua belas pas.
Jika di edisi final Liga Champions sebelumnya Chelsea yang berjaya, kini di final Super Eropa, Bayern benar-benar menuntaskan dendamnya. Berbarengan dengan gagalnya eksekusi Romelu Lukaku di kans kelima alias terakhir, Bayern pun menggondol gelar Super Eropa pertama mereka.
Nyanyian seketika “Mia San Mia” menggema di seantero sektor stadion Eden Arena yang diduduki para fans Bayern. Puas sudah Bayern melayangkan dendam yang setahun sebelumnya mesti mereka telan bulat-bulat. Pil getir itu lantas mereka paksa untuk ditelan para fans Chelsea.
Momen kejayaan itu memang sudah berlalu dan bahkan, hegemoni raksasa Bavaria ini bisa saja runtuh seketika untuk musim berikutnya (2013/2014), kendati tutup tahun dengan status juara Grup D untuk lolos ke babak 16 besar.
Yang bikin ragu bahwa supremasi Bayern mulai menurun adalah kekalahan mengecewakan di partai terakhir Grup dari Manchester City. Belum lagi, tahun depan mereka akan kembali terundi dengan Arsenal di babak perdelapan final yang baru akan dihampar Februari mendatang.
Sementara Chelsea yang kini kembali ke Liga Champions dan juga mampu lolos ke babak 16 besar, dihadapkan dengan lawan tangguh dari kawasan “anak benua” – Turki. Adalah Galatasaray yang di babak Grup, sukses melempar Juve ke Europa League. Bianconeri sudah jadi korban dari kerasnya perlawanan Galatasaray, terlebih jika bermain di kandang sendiri di musim dingin seperti ini.
Menyinggung Juve yang terdegradasi ke Europa League, menjelang akhir tahun, gelandang Arturo Vidal dan direktur Beppe Marotta, mengusung kepercayaan diri tinggi untuk merebut trofi yang musim lalu dimiliki Chelsea ini. Terlebih, final Europa League musim panas mendatang, akan digelar di kandang mereka sendiri, Juventus Stadium. Satu persoalan besar, Juve terundi dengan tim Turki lainnya, Trabzonspor di babak 32 besar yang punya ambisi menyamai Galatasaray – menyingkirkan Juve dari pentas Eropa.
(Randy Wirayudha)