Atmosfer sepakbola Indonesia masih mengenaskan di awal tahun 2013. Betapa tidak, dualisme masih terjadi, baik itu di level pengurus, hingga kompetisi yang juga terpecah menjadi dua. Namun memasuki penghujung 2013, sinyalemen perbaikan mulai ditunjukkan.
Kongres Luar Biasa PSSI Solo pada 2011 yang menghasilkan Djohar Arifin Husin sebagai ketua -menggantikan Nurdin Halid- rupanya belum memberikan dampak signifikan dalam memperbaiki PSSI.
Keputusan Djohar dan komite eksekutifnya yang mendepak ‘orang-orang’ lama di PSSI dan menggulirkan Indonesia Premier League (IPL) serta mengharamkan Indonesia Super League (ISL) dikabarkan menjadi pemicu. Mereka yang terpinggirkan coba membangun kekuatan demi melengserkan Djohar dan kembali berkuasa di PSSI.
Singkatnya, menginjak 2013, masih terjadi pemberontakan, di mana mereka yang terpinggirkan membentuk sebuah organisasi yang mereka namakan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Organisasi ini dipimpin oleh La Nyalla Mattalitti, hasil dari Kongres Luar Biasa di Ancol, akhir Desember 2012. KPSI mengklaim merupakan pengurus PSSI yang sah karena mendapat dukungan dari mayoritas anggota PSSI yang berlaga di ISL. Mereka bahkan melarang pemain-pemain yang berlaga di IPL untuk membela Timnas Indonesia.
Terjadinya dualisme kepengurusan ini membuat Indonesia kembali mendapat sorotan FIFA. Otoritas sepakbola tertinggi dunia itu bahkan kembali mengancam akan menjatuhkan sanksi apabila dualisme tersebut tidak berakhir. FIFA yang sebelumnya terus memberikan kelonggaran, kembali memperpanjang deadline hingga 30 Maret 2013.
Kondisi ini membuat pemerintah kembali turun tangan dengan membentuk Task Force untuk menyelesaikan dualisme ini. Melalui Plt Menpora, Agung Laksono, Tim task force diketuai oleh Rita Subowo (ketum KONI) dan beberapa anggota seperti mantan Ketum PSSI, Agum Gumelar. Namun, pembentukan Task Force ini tidak memberikan hasil signifikan di mana kedua kubu PSSI yang berseberangan tetap mengklaim mereka yang paling benar. Medio Januari, Task Force akhirnya dibubarkan.
Momen bersatunya PSSI
Hingga akhirnya dibentuklah Badan Tim Nasional (BTN) pada Februari, dengan Isran Noor sebagai ketuanya. Kehadiran BTN, sedikit meluluhkan pendirian KPSI yang akhirnya memperbolehkan para pemain ISL membela Timnas Indonesia. Hal ini mendapat persetujuan dari Menpora yang baru ditunjuk menggantikan Andi Mallarangeng yang tersandung kasus korupsi, yakni Roy Suryo.
17 Maret 2013, kedua kubu PSSI yang berseberangan akhirnya sepakat untuk menggelar Kongres Luar Biasa yang digelar di Hotel Borobudur. Meski sehari sebelumnya sempat terjadi kericuhan saat 18 Pengprov yang mengaku anggota PSSI protes karena tidak mendapatkan akses untuk mengikuti KLB, Kongres tetap berjalan.
Dalam kongres, kericuhan kembali terjadi ketika enam anggota Exco PSSI, yakni Wakil Ketua Umum Farid Rahman, Sihar Sitorus, Tuti Dau, Widodo Santoso, Mawardi Nurdin, dan Bob Hippy memutuskan walk out lantaran tidak setuju dengan adanya agenda tambahan, di luar penyatuan liga dan pengembalian empat exco terhukum dan revisi statuta. Dalam kongres ini, Djohar yang sebelumnya tegas menentang KPSI, kini mulai melunak.
Terlepas dari aksi walk out, enam exco tersebut, KLB tetap berlangsung hingga akhirnya menetapkan sejumlah keputusan yang diamanatkan FIFA seperti; unifikasi liga, pengembalian empat Exco yang terhukum, revisi statuta dan penggunaan voters Solo, diselesaikan secara mufakat.
KLB ini juga merumuskan keputusan lain, yakni memberikan skorsing kepada enam anggota Exco PSSI yang walk out dan menunjuk La Nyalla sebagai Waketum PSSI menggantikan Farid Rahman, serta mengangkat empat anggota Exco baru, yakni La Siya, Zul Fadli, Hardi Hasan dan Djamal Azis. Terakhir, Kongres ini juga secara resmi membubarkan KPSI.
Terlepas dari sejumlah kericuhan yang terjadi, KLB di Borobudur bisa dikatakan sebagai tonggak bersejarah untuk sepakbola Indonesia. Pasalnya, dalam kongres ini, akhirnya disetujui unifikasi Liga yang mulai diberlakukan pada 2014.
19 April 2013, PSSI berulang tahun yang ke-83. Momen ini dimanfaatkan Djohar untuk kembali mengimbau untuk bersama-sama membangun kembali sepakbola Indonesia.
Sampai di sini masalah selesai? Ternyata belum. Kehadiran BTN menjadi masalah baru. Hal ini dipicu oleh keputusan Isran Noor yang secara tiba-tiba menunjuk Luis Manuel Blanco sebagai pelatih Timnas Indonesia, menggantikan posisi Nil Maizar yang tengah memimpin anak asuhnya melakoni laga Pra Piala Asia 2015 (Indonesia memulai perjuangannya dengan kekalahan 0-1 dari Irak di laga pembuka).
Namun, kehadiran Blanco di kursi kepelatihan Timnas Senior tidak berlangsung lama. Sejurus setelah Isran dicopot dari Ketum BTN, atau dalam hitungan hari, pelatih asal Argentina dicopot dari jabatannya lantaran banyak ditentang oleh pemain karena mendepak sejumlah pemain dari pelatnas dan dianggap memberikan porsi latihan yang kelewat berat.
Lewat Manajer Timnas, Harbiansyah Hanafiah, pengumuman pemecatan Blanco disampaikan. Dia kemudian ditawari untuk menjadi pelatih di level junior, namun ditolak pria Argentina itu. Antisipasi cepat langsung diambil BTN dengan menunjuk duet Rahmad Darmawan dan Jacksen F Tiago untuk membesut Timnas senior.
Kehadiran keduanya membuat para pemain ISL kembali mendominasi skuad Timnas Senior. Serangkaian agenda uji coba bergengsi pun dilakukan, seperti eksebisi kontra Timnas Belanda (kalah 0-3), hingga laga pramusim kontra tim-tim Eropa seperti Arsenal, Liverpool dan Chelsea.
Sukses Besar Timnas U-19
Memasuki pertengahan tahun 2013, atensi pecinta sepakbola Indonesia teralihkan dengan penampilan spektakuler skuad Timnas U-19 yang berlaga di AFF Cup U-19 di Sidoarjo, 9 - 22 September 2013.
Penampilan ciamik Evan Dimas dkk. sukses mengembalikan antusiasme pecinta sepakbola yang sebelumnya muak dengan prestasi timnas senior yang kian tenggelam.
Timnas U-19 yang dihuni para pemain kelas ‘kampung’ yang ditemukan Indra lewat blusukkannya ke pelosok-pelosok daerah, tampil impresif dengan menumbangkan Vietnam, tim yang mengalahkan mereka di babak penyisihan grup, dengan kemenangan dramatis lewat drama adu penalti di babak final.
Gelar juara AFF U-19 yang sudah 22 tahun tidak dirasakan Indonesia, ternyata bukan satu-satunya persembahan Timnas U-19. Mereka juga tampil spektakuler ketika ambil bagian di ajang yang skalanya lebih besar, yakni kualifikasi Piala Asia U-19 yang kembali dihelat di Sidoarjo.
Pada laga terakhir babak penyisihan grup, Indonesia yang membutuhkan kemenangan atas tim kuat, Korea Selatan, untuk memastikan diri lolos langsung, tampil gemilang.
Di bawah guyuran hujan di Stadion Gelora Utama Gelora Bung Karno, permainan kolektif dan disiplin tinggi yang diterapkan Evan Dimas cs sukses menumbangkan Korsel yang berlabel juara bertahan dan pemegang rekor 12 gelar juara Piala Asia, dengan skor 3-2.
Indonesia pun akhirnya memastikan diri lolos ke Piala Asia U-19 yang digelar di Myanmar 2014 mendatang. Target lain di usung Evan Dimas cs, yakni jadi yang terbaik di Asia atau paling tidak menembus semifinal untuk bisa berlaga di Piala Dunia U-20.
Sukses ini sontak mendapatkan apresiasi besar dari masyarakat Indonesia. Para punggawa Timnas U-19 kebanjiran bonus baik berupa uang, rumah, hingga beasiswa dari sekolah atau universitas di mana mereka menuntut ilmu.
Untuk merealisasikan ambisi besar di atas, PSSI memutuskan untuk menggelar pelatnas jangka panjang. Hingga kini, skuad Timnas U-19 masih menjalani training camp di Batu, Malang. Pelatih Indra Sjafrie masih konsisten dengan kebijakannya mencari pemain dari pelosok dengan menggelar seleksi di berbagai daerah.
Realisasi Unifikasi Liga
Di penghujung 2013, PSSI akhirnya merealisasikan janjinya untuk menyatukan kompetisi Sepakbola Indonesia. Unifikasi Liga yang akan diterapkan pada 2014 pun kembali jadi fokus.
Langkah konkret pertama yang diambil adalah dengan menghentikan kompetisi IPL yang sudah tidak ‘bergairah’ lantaran banyak tim yang tidak bisa melaksakan pertandingan karena terganjal masalah finansial. Sementara ISL sukses merampungkan kompetisinya dengan Persipura Jayapura sebagai kampiun.
Sebagai gantinya, PSSI menggelar babak play-off IPL untuk mencari tujuh tim yang kemudian berhak menjalani verifikasi guna mengikuti liga unifikasi (gabungan IPL dan ISL) musim depan. Semen Padang menjadi satu-satunya dari 11 tim IPL yang tidak harus menjalani laga play-off dan langsung masuk untuk ikut dalam verifikasi, karena pertimbangan historis, serta statusnya sebagai pimpinan klasemen IPL sebelum dihentikan.
Hasil play-off IPL akhirnya mendapatkan enam tim yang akan menemani Semen Padang untuk mengikuti verifikasi bersama dengan 18 klub ISL. Keenam tim tersebut ialah Pro Duta FC, PSM Makasar, Persijap Jepara, Persepar Palangkaraya, Persiba Bantul dan Perseman Manokwari.
Setelah mendapat 25 tim yang akan di verifikasi, masalah ternyata belum usai. Komdis PSSI melalui ketuanya Hinca Panjaitan menemukan adanya kecurangan di laga play-off IPL, di mana Pro Duta FC dianggap melakukan tindakan tidak sportif yakni dengan mengatur hasil pertandingan.
Terlepas dari insiden tersebut, PSSI tetap melakukan verifikasi terhadap 25 tim. Dengan mempertimbangkan lima aspek, yakni finansial, infrastruktur, legal, administrasi dan personel, serta sporting (pembinaan usia muda), PSSI akhirnya mengumumkan tim-tim yang lolos verifikasi pada 10 Desember.
Dalam keputusan sementara yang diumumkan Sekjen PSSI, Joko Driyono, tiga tim IPL yakni Perseman Manokwari, Persepar Palangkaraya, Pro Duta dinyatakan tidak lolos. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan, terutama dari kubu Pro Duta yang mencium adanya diskriminasi dalam proses pengambilan keputusan.
Terlepas dari kasus Pro Duta, PSSI mengumumkan 22 tim yang dinyatakan lolos untuk sementara. Tim-tim ini nantinya akan dipecah menjadi dua bagian, karena untuk musim depan, PSSI akan menggunakan format dua wilayah. Jelasnya soal mekanisme dan pembagian tim-tim masih terus digodok PSSI hingga kini.
Jacksen Mundur dari Timnas & Bepe Damai dengan Persija
Selain soal Unifikasi Liga, sepanjang November-Desember ini, banyak kejadian menarik yang patut disinggung. Pertama ialah pengunduran diri Jacksen F Tiago dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Senior Indonesia pada 19 November.
Pelatih kelahiran Brasil ini, memutuskan mundur usai memimpin laga tandang Indonesia kontra Irak pada lanjutan Pra Piala Asia 2015 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang berkesudahan 0-2 untuk Irak dan sekaligus menutup peluang Indonesia untuk lolos ke Piala Asia 2015.
PSSI langsung bergerak cepat mencari pengganti. Seperti yang sudah diperkirakan, PSSI kembali menunjuk Alfred Riedl untuk menukangi Timnas senior. Pria Austria ini menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun pada 7 Desember. Riedl akan memimpin Indonesia kontra Arab Saudi pada laga pamungkas Pra Piala Asia 2015, Maret 2014.
Di kesempatan keduanya membesut skuad Garuda, Riedl akan didampingi tiga asisten, yakni Widodo Cahyono Putro, Edy Haryo dan asistennya terdahulu, Wolfgang Pikal.
Selain kembalinya Riedl, momen penting yang terjadi pada penghujung 2013 ini, ialah perdamaian yang terjadi antara striker veteran Indonesia, Bambang Pamungkas dengan mantan klubnya Persija Jakarta. Bepe yang sebelumnya sempat membawa kasus penunggakan gaji Persija ke pengadilan, akhirnya mencabut gugatannya. Tak lama kemudian, Bepe yang sempat semusim menganggur, akhirnya kembali turun gunung dengan bergabung ke Pelita Bandung Raya.
Kegagalan Timnas Indonesia U-23 di SEA Games
Rangkaian momen penting sepanjang 2013, ditutup dengan aksi skuad Timnas U-23 di pentas SEA Games XXVII di Myanmar 2013. Tergabung di grup yang cukup berat bersama Thailand, Timor Leste, Kamboja dan tuan rumah Myanmar, Indonesia sempat berada di ujung tanduk lantaran berada di posisi tiga, jelang laga pamungkas kontra Myanmar.
Namun, Alfin Tuasalamony dkk mampu merespon dengan baik tekanan tersebut, dengan mengalahkan Myanmar 1-0. Meski memiliki poin sama 7, dan kalah dalam urusan selisih gol, Indonesia berhak mendampingi Thailand lolos ke semifinal lantaran regulasi menyebutkan bahwa penentuan lolos ditentukan lewat head to head bukan selisih gol.
Indonesia sempat memberikan asa dengan menuntaskan dendam atas Malaysia, tim yang mengalahkan mereka di final dua tahun lalu di Jakarta. Dengan scenario sama, lewat drama adu penalti, Indonesia memastikan diri melaju ke final untuk menantang Thailand yang mengalahkan mereka 1-4 di babak penyisihan.
Sayang, impian untuk menghapus dahaga gelar juara yang terakhir kali diraih pada SEA Games 1991, gagal diwujudkan. Indonesia kembali harus takluk dari Thailand dengan skor tipis 0-1. Indonesia pun harus kembali menerima kenyataan hanya merebut medali perak. Hasil ini diperparah dengan kegagalan kontingen Indonesia di SEA Games di mana mereka mencatat rekor terburuk dengan menempati peringkat empat klasemen perolehan medali, di bawah Myanmar, Vietnam dan Thailand yang jadi juara umum.
(Achmad Firdaus)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.