Selain itu, manajemen pertandingan juru taktik di pinggir lapangan dinilai sangat lamban. Pergantian pemain kerap terlambat dilakukan ketika skuad sudah kehilangan kendali ritme permainan di bawah tekanan lawan.
Pemilihan komposisi pemain turut menjadi sorotan tajam. Bung Ais menilai masih banyak pemain berpengalaman yang diabaikan padahal profil mereka sangat dibutuhkan saat tim mengalami kebuntuan, seperti Ricky Kambuaya, Adam Alis, hingga kiper tangguh Teja Paku Alam.
"Kedalaman skuad secara keseluruhan belum merata. Ketika beberapa pemain utama harus bermain hampir seluruh turnamen, kualitas penggantinya belum selalu berada pada level yang sama," jelas Bung Ais.
Faktor non-teknis berupa runtuhnya mentalitas bertanding ketika tertinggal menjadi penyakit akut yang harus disembuhkan. Garuda kehilangan fighting spirit dan panik saat ditekan lawan, yang kerap diperburuk oleh konyolnya kesalahan-kesalahan individu di lini belakang.
"Pada akhirnya, persoalan terbesar Indonesia di AFF 2026 bukan semata-mata kualitas pemain. Skuad ini sebenarnya memiliki materi yang cukup menjanjikan, tetapi membutuhkan pengelolaan serta kepemimpinan taktis yang tepat dari seorang pelatih," pungkas Bung Ais.
(Rivan Nasri Rachman)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.