Namun, dongeng indah Mesir di Amerika Utara mendadak sirna saat bersua Argentina. Sempat memimpin nyaman 2-0 hingga menit ke-79, keunggulan Mesir buyar akibat kebangkitan Argentina yang diinspirasi Lionel Messi, sebelum akhirnya sundulan Enzo Fernandez mengunci kemenangan lawan di akhir laga.
Hassan menilai hasil pertandingan tersebut telah dinodai oleh faktor non-teknis, termasuk dugaan tekanan kubu Argentina kepada wasit sebelum laga dimulai. Ia memprotes keras dua klaim penalti Mesir yang diabaikan serta sebuah gol krusial yang dianulir oleh VAR, yang sempat membuatnya diganjar kartu kuning di babak tambahan waktu.
"Saya akan pulang dan tidak akan menonton pertandingan lagi dari turnamen ini. Apa yang terjadi pada kami tidak adil. Kami seharusnya mendapat penalti, sebuah gol dianulir, dan saya tidak tahu mengapa dianulir,” ungkap Hassan, mengutip dari ABC, Rabu (8/7/2026).
"Kami telah diperlakukan tidak adil hari ini. Kami telah mengalami ketidakadilan. Kami lebih baik dalam segala hal, tetapi hasilnya dipengaruhi oleh faktor internal di lapangan, di dalam pertandingan, dan faktor eksternal sebelum pertandingan,” tambahnya.
"Tampaknya ada tekanan yang diberikan dari pihak Argentina kepada wasit yang menyebabkan hasil ini,” lanjut Hassan.
Saking kecewanya, mantan pelatih Timnas Yordania ini menyatakan enggan menonton sisa turnamen dan memilih langsung pulang. Hassan menegaskan sepak bola telah kehilangan kredibilitasnya, meski di sisi lain ia mengaku tetap sangat bangga atas perjuangan luar biasa yang ditunjukkan oleh para pemainnya.
(Rivan Nasri Rachman)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.