Share

Soroti Penggunaan Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan, Peneliti Internasional Sebut Kepolisian Indonesia Telah Gagal Menjalankan Fungsinya

Ilham Sigit Pratama, MNC Portal · Selasa 04 Oktober 2022 13:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 49 2680354 soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya-ZasJRHPdlS.jpg Penggunaan gas air mata oleh Kepolisian di Tragedi Kanjuruhan (Foto: ANTARA)

SOROTI penggunaan gas air mata di Tragedi Kanjuruhan, peneliti internasional sebut Kepolisian Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya. Hal ini diungkapkan oleh pakar ekonomi, hukum, dan politik University Murdoch, Perth, Australia, Jacqui Baker, kepada New York Times.

Menurut Jacqui Baker, kepolisian Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya seiring dengan terjadinya Tragedi kanjuruhan yang memakan korban hingga setidaknya 125 orang. Menurut sang peneliti, aparat di Indonesia memang sudah bermasalah sedari awal.

Tragedi Kanjuruhan

Baker mengambil contoh dari demonstrasi bersar-besaran aksi tolak RKUHP pada September 2019 silam. Menurut data yang dirangkumnya, polisi memukuli orang dengan tongkat dan tameng di lebih dari 15 provinsi di Indonesia, sebanyak 10 orang pun tewas.

Tak hanya itu, Baker juga menyorot kala pihak kepolisian menembakkan gas air mata ke arah demonstran di Ternate pada April 2022 silam. Penelusurannya mengungkap bahwa terdapat tiga balita di sekitar lokasi unjuk rasa yang terluka terkena gas air mata.

Baker kembali mengelus dada ketika kerusuhan pecah di Stadion Kanjuruhan akhir pekan lalu. Menurutnya, gas air mata dan aksi kekerasan yang dilakukan polisi menjadi bukti bahwa aparat kepolisian di Indonesia sudah gagal menjalankan fungsinya.

“Bagi saya, ini benar-benar kegagalan fungsi dari reformasi kepolisian di Indonesia,” kata Baker dikutip New York Times, Selasa (4/10/2022).

Follow Berita Okezone di Google News

Lebih lanjut, Baker mengungkapkan bahwa traged-tragedi yang sudah ada sebelumnya tidak membuat pihak kepolisian membuka mata, mawas dan introspeksi diri. Dirinya menyebut bahwa polisi di Indonesia.

Tragedi Kanjuruhan

“Mengapa kita terus dihadapkan pada impunitas, karena tidak ada kepentingan politik untuk mewujudkan kepolisian yang profesional,” tutupnya.

Senada dengan Baker, peneliti dari Insitute for Policy Analysis of Conflict di Jakarta, Sana Jeffrey juga menyebut bahwa kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian sudah menjadi budaya yang sulit diubah. Jeffrey menyebut bahwa terdapat kesalahan yang mengakar pada sistem instansi kepolisian di tanah air.

“Sekarang ini sudah menjadi pola, hal penting yang menjadi kewajiban polisi di akar rumput dibaikan,” kata Jeffrey.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini