TC Masuki Pekan Kedua, GSI Ingin Jaga Tradisi Sumbang Pemain ke Timnas Indonesia

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 20:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 51 2507536 tc-masuki-pekan-kedua-gsi-ingin-jaga-tradisi-sumbang-pemain-ke-timnas-indonesia-3bC7ykCiMe.jpg TC Gala Siswa Indonesia yang sudah memasuki pekan kedua. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Training Centre (TC) Gala Siswa Indonesia (GSI) SMP Tingkat Nasional 2021 terus bergulir dan kini sudah memasuki pekan kedua. Kegiatan ini pun diharapkan bisa menjaga tradisi untuk menyumbangkan pemain ke Tim Nasional (Timnas) Indonesia.

Pada pekan kedua, siswa pemusatan latihan menjalani kompetisi internal di lapangan berstandar FIFA. Kompetisi ini pun digelar di ASIOP Traning Ground, Royal Sentul Park, Kabupaten Bogor, mulai 22 sampai 29 November 2021.

“Tahun ini kami mengidentifikasi 102 anak terbaik dari sekira 6 ribu siswa dari seluruh Indonesia. Mudah-mudahan anak-anak bisa diidentifikasi dan dikembangkan talentanya dengan baik, dan GSI menjaga tradisi menyumbangkan pemain ke timnas,” kata Plt Kepala Pusat Prestasi Nasional, Asep Sukmayadi, dalam keterangannya kepada wartawan.

Dikatakan Asep, dari apa yang disampaikan tim pelatih, siswa peserta GSI tingkat nasional ini memiliki harapan besar bisa menjadi bagian dari sasaran talenta talenta terbaik sepakbola Indonesia.

“Ini menjadi harapan bagi kita dan energi positif bagi kita untuk terus mengembangkan prestasi anak anak di bidang olahraga di SMP, khususnya talenta di bidang sepakbola,” tambahnya.

BACA JUGA: Deretan Kemenangan Timnas Indonesia atas Myanmar di Piala AFF, Salah Satunya Pesta Gol 5-0

Tahun ini, GSI tingkat nasional diikuti 102 peserta dan 33 pelatih dari 33 provinsi. Mereka adalah peserta didik SMP yang terdaftar di Dapodik dan telah lolos seleksi di tingkat kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi melalui penilaian video keterampilan individu siswa.

BACA JUGA: Jordi Amat Oke, PSSI Konfirmasi 3 Pemain Keturunan Siap Bela Timnas Indonesia

Di tingkat nasional yang digelar mulai mulai 16 November, siswa menjalani dua kegiatan, yaitu training centre dan kompetisi internal. Pada fase training centre, siswa mendapatkan materi aspek pengembangan psikologis dan keterampilan, teori dan praktik, serta tes dan pengukuran untuk kemampuan bermain sepakbola.

Sedangkan pada fase kompetisi internal, peserta dibagi dalam enam tim, yaitu Yudistira FC, Bima FC, Arjuna FC, Nakula FC, Sadewa FC, dan Gatot Kaca FC. Setiap tim terdiri dari 17 (tujuh belas) pemain. Kompetisi internal adalah pertandingan yang terdiri dari 2 babak, yakni babak penyisihan dan perang bintang.

Tim Talent Scouting PSSI, Yeyen Tumena, yang terlibat langsung dalam pelaksanaan GSI menjelaskan, karena tahun ini siswa dipilih berdasarkan kiriman video sesuai panduan panitia, maka yang terlihat baru bakat sebagia individu, bukan tim.  Alhasil, saat di camp ini, tim pelatih membaginya menjadi dua tahap.

“Minggu pertama, dilatih dulu sesuai materi latihan Filanesia oleh pelatih bersertifikat dan mantan pemain. Pada minggu kedua, kami buatkan kompetisi Internalnya, supaya kita bisa lihat semua unsur sepakbolanya secara tim. Baru dari situ, kami pilih 30 terbaik dan dimainkan dalam perang bintang,” kata Yeyen.

Dijelaskan Yeyen, untuk anak di kelompok umur siswa seperti GSI, dalam satu tahun minimal merasakan 40 pertandingan. Di GSI, akan 5 match ditambah perang bintang sebagai laga penutup. Sehingga, standar minimal pertandingan dalam satu bulan untuk usia mereka terpenuhi.

Yeyen menambahkan, siswa yang lolos ke GSI SMP tingkat nasional sudah memiliki standar yang diinginkan pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti. Salah satunya adalah tinggi badan.

“Karena, output yang diharapkan dari event ini adalah memberikan talenta terbaik dari seluruh negeri untuk timnas Indonesia,” tambah mantan pemain timnas Indonesia yang juga Ketua APSSI tersebut.

Tim Pelatih GSI Firman Utina menilai event yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan PSSI ini sangat ditunggu masyarakat pencinta sepakbola. Khususnya mereka yang peduli dengan pembinaan sepakbola usia dini. 

“Ini merupakan langkah nyata pembinaan usia dini. Indonesia tidak bisa bicara presatasi masa depan hanya melihat yang utama (sekarang) tanpa membangun generasi bagus untuk membantu prestasi sepakbola di masa mendatang,” ujar mantan kapten timnas Indonesia tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini