Rasisme Marak, UEFA Ikut Gerakan Boikot Medsos

Quadiliba Al-Farabi, Jurnalis · Jum'at 30 April 2021 16:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 51 2403593 rasisme-marak-uefa-ikut-gerakan-boikot-medsos-vuLlHUqp5V.jpg Logo UEFA (Foto: UEFA)

NYON - Kasus rasisme yang menimpa pesepakbola di dunia maya semakin marak. Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) lantas mengambil tindakan tegas dengan berhenti sejenak mengunggah konten ke media sosial sepanjang akhir pekan ini.

Gerakan ini akan dilakukan selama empat hari berturut-turut dengan tetap diam di seluruh platform media sosial yang dimiliki UEFA. Aksi diam tanpa mengunggah apapun ini rencananya berlangsung mulai Jumat (30/4/2021) pukul 15.00 waktu Inggris atau sekira pukul 21.00 WIB hingga Senin 3 Mei 2021 pukul 23.59 waktu Inggris atau Selasa 4 Mei pagi WIB.

Baca juga: Grup E Piala Eropa 2020 Pindah Lokasi, Timnas Polandia Ganti Homebase

Dengan aksi ini, UEFA mengikuti langkah asosiasi sepak bola Inggris (FA) yang sebelumnya lebih dulu menginisiasi gerakan ini. Mulai dari klub-klub Liga Inggris, Liga Primer, FA, English Football Leauge (EFL), Women Super Cup, LMA, PFA, PGMOL, FSA, hingga Kick it Out turut ikut serta.

Logo Premier League

Sebagaimana diketahui, awal mula adanya gerakan ini berkaitan dengan banyaknya olahragawan terutama di Inggris yang mengalami kekerasan dan kebencian di media online. Selama musim 2020-2021 kasus-kasus diskriminatif, pelecehan, ujaran kebencian hingga rasisme menguat hingga saat ini.

Baca juga: Manchester City vs Chelsea Bertemu, Final Liga Champions 2020-2021 Digelar di Inggris?

Sebagai contoh, para pemain Liga Inggris akhir-akhir ini sering melaporkan kasus rasisme dan pelecehan yang menyerang dirinya melalui media sosial. Sebut saja pemain Chelsea Reece James, penyerang Crystal Palace Wilfried Zaha, hingga mantan pemain Arsenal Ian Wright.

Sampai akhirnya, pemerintah Inggris pun mendapat desakan dari FA untuk mengesahkan Rancangan Undang-undang terkait Keamanan Online. Sampai saat ini, belum ada respons terkait desakan ini.

Melihat makin maraknya kasus tersebut, UEFA tak mau tinggal diam. Presiden UEFA Aleksander Ceferin turut mendukung inisiatif boikot media sosial tersebut.

“Ada pelanggaran baik di lapangan maupun di media sosial. Ini tidak dapat diterima dan perlu dihentikan, dengan bantuan otoritas publik dan legislatif serta raksasa media sosial. Membiarkan budaya kebencian tumbuh dengan impunitas berbahaya, sangat berbahaya, tidak hanya untuk sepak bola, tapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan,” kata Aleksander Ceferin, dikutip dari laman resmi UEFA, Jumat (30/4/2021).

“Inilah mengapa kami mendukung inisiatif ini. Sudah waktunya bagi sepak bola untuk mengambil sikap dan saya terkesan dengan solidaritas yang ditunjukkan oleh para pemain, klub, dan pemangku kepentingan,” sambung lelaki kelahiran Slovenia itu.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin

Tak sampai di sana, Ceferin pun mendorong kepada seluruh asosiasi sepak bola di dunia untuk segera melaporkan bila kejadian serupa menyerang jajaran timnya maupun perangkat pertandingan. Ia mengecam keras praktik-praktik yang dinilai mengotori indahnya permainan sepakbola.

“Saya mendorong semua orang -pemain, klub dan asosiasi nasional- untuk mengajukan keluhan resmi setiap kali pemain, pelatih, wasit atau ofisial menjadi korban dari kicauan atau pesan yang tidak dapat diterima. Kami sudah muak dengan para pengecut yang bersembunyi di balik anonimitas mereka untuk memuntahkan ideologi berbahaya mereka,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini