Marc Klok Bertanya, Warganet: Liga Indonesia juga Tarkam!

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 19 November 2020 00:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 49 2312052 marc-klok-bertanya-warganet-liga-indonesia-juga-tarkam-80QMTD1Moe.jpg Marc Klok berlaga di Liga 1 2020 (Foto: Persija Jakarta)

JAKARTA – Turnamen antar kampung (atau tarikan kampung) yang biasa disingkat tarkam memang menjadi polemik tersendiri di kancah sepakbola nasional. Sebab, tidak jarang pesepakbola Indonesia ikut berlaga di ajang tarkam demi menyambung hidup.

Ya, tarkam menjadi pilihan terakhir bagi pesepakbola profesional di Indonesia jika tidak ada kompetisi yang bergulir. Mereka rela bermain dalam level amatir paling rendah demi menyambung hidup. Jangan salah, pemain profesional yang ikut tarkam juga mendapat bayaran yang menarik.

Pesepakbola asal klub Persija Jakarta, Marc Klok, membuka ruang diskusi mengenai tarkam di akun Twitter @marcklok10. Pemain kelahiran Amsterdam itu bertanya apakah salah jika seorang pesepakbola profesional bermain tarkam ketika tidak ada kompetisi.

Baca juga: Punya Ide Lain, Kapten Bhayangkara FC Sarankan Liga 1 2020-2021 Dihentikan

Marc Klok resmi menjadi WNI

“Apakah salah kalau pesepakbola profesional bermain tarkam ketika tidak ada pertandingan? Mari diskusi,” cuit @marcklok10.

Jawaban warganet pun beragam. Mayoritas menyebut bermain tarkam adalah sesuatu yang salah bagi pesepakbola profesional. Namun, hal tersebut cukup bisa dimaklumi karena bagaimana pun juga, pesepakbola yang masuk kategori profesional membutuhkan uang untuk menyambung hidup.

“Salah untuk alasan apa pun. Klub membayar seorang pesepakbola profesional untuk bekerja 100% dalam pertandingan atau latihan. Bagaimana jika klub tidak membayar Anda karena kompetisi ditunda? Profesionalisme pemain diuji di sini,” ujar pemilik akun @juven1june.

Respons menarik diungkapkan @paidobois. Menurutnya, bermain di level tarkam tidak salah. Sebab, Liga Indonesia sendiri sebetulnya adalah tarkam. Yang berbeda, hanya banyaknya sponsor dan pemain bule (asing).

Pendapat berbeda lagi disampaikan oleh @fabril_ua. Menurutnya, bermain di level tarkam memang punya dampak negatif. Akan tetapi, bila klub sudah mengizinkan, maka bermain di level tarkam tidak salah sama sekali.

“Jika pemain mendapat izin dari klub, maka tarkam tidak salah sama sekali. Buat saya, tarkam adalah kultur sepakbola akar rumput di sini, sama seperti Sunday League di Inggris, terutama ketika masyarakat butuh hiburan saat liga terhenti,” cuit @fabril_ua.

Sepakbola tarkam memang kerap menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat di pedesaan. Kehadiran pemain profesional tentu menjadi daya tarik untuk tontonan. Namun, lagi-lagi tarkam punya risiko yang tidak sembarangan. Pemain profesional bisa terkena cedera parah gara-gara bermain tarkam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini