Media Asing Soroti Perjuangan Pesepakbola Lokal Menyambung Hidup

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 12 November 2020 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 12 49 2308464 media-asing-soroti-perjuangan-pesepakbola-lokal-menyambung-hidup-z4sLwqpuYi.jpg Aksi Bagus Nirwanto di laga PSM vs PSS (Foto: Instagram/@bagus_munyeng)

JAKARTA – Terhentinya kompetisi Liga 1 2020 akibat Covid-19 membuat para pesepakbola Tanah Air harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Perjuangan tersebut mendapat sorotan tajam dari media asing seperti AFP dan France24.

Seperti diketahui, Liga 1 2020 dihentikan sementara sejak pertengahan Maret akibat pandemi Covid-19. Awalnya, liga hanya dihentikan hingga April 2020. Namun, perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di banyak daerah, membuat kompetisi dihentikan sampai September.

Ketika itu, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator dan PSSI berharap kompetisi bisa kembali diputar pada awal Oktober 2020. Sayangnya, Kepolisian Negara RI (Polri) menolak memberikan izin keramaian sebagai syarat menggelar pertandingan sepakbola, sekali pun tanpa penonton, dengan alasan pandemi.

Baca juga: Liga 1 Tak Jelas, Bek Persib Bandung Pilih Pulang Kampung ke Brasil

Pembukaan Liga 1 2020 (Foto: PSSI)

Pesepakbola jelas menjadi pihak paling terdampak dari penghentian kompetisi. Apalagi, PSSI mengizinkan klub membayar pemainnya sebesar maksimal 25% dari nilai kontrak. Bek Borneo FC, Andri Muliadi, mengungkapkan keluh kesahnya di tengah perjuangan bertahan hidup.

“Bagaimana kami tidak kecewa sedangkan profesi kami, pekerjaan kami, tidak semulus apa yang dipikirkan. Pasti kecewa. Seluruh pemaini sepakbola pasti kecewa. Apalagi, mata pencaharian kami di sepakbola ini kan,” tutur Andri Muliadi, sebagaimana dikutip dari AFP, Kamis (12/11/2020).

Andri Muliadi dan rekan seprofesinya jelas harus putar otak untuk mencari tambahan pemasukan di luar mata pencaharian utama sebagai pesepakbola. Beruntung, ia ikut membantu usai kopi dari mertua.

“Karena pandemi kami tidak bisa bermain sepakbola, jadi harus ada sesatu yang saya lakukan. Kebetulan mertua saya jualan kopi, terus saya mulai promosi segala macam, ikut bikin usaha,” sambung Andri Muliadi.

Selain Andri Muliadi, kisah pesepakbola asal klub PSS Sleman Bagus Nirwanto, yang harus berjualan beras dan gula untuk menyambung hidup, juga menjadi sorotan dari media Prancis lainnya, France24. Dampak yang dirasakan Bagus tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga psikologi.

“Saya sangat kecewa karena kompetisi ditunda. Kami sangat bersemangat dan berlatih keras untuk pertandingan pertama. Kami seharusnya diizinkan untuk mengadakan pertandingan tanpa penonton,” tutur Bagus Nirwanto.

Tentu saja, tidak semua pesepakbola lokal bisa seberuntung Bagus Nirwanto dan Andri Muliadi. France24 melaporkan ada beberapa pemain lain yang harus berjualan kue, es kelapa, atau makanan lain. Berita dari kedua media itu lantas menyebar ke negara-negara lain, terutama Asia Tenggara, di mana kompetisi sepakbola terus bergulir di tengah pandemi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini