Banding Man City Dikabulkan CAS, Rummenigge Sindir UEFA

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 29 Juli 2020 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 29 261 2254013 banding-man-city-dikabulkan-cas-rummenigge-sindir-uefa-GGqZjbir7m.jpg Man City lolos dari hukuman larangan bermain di Liga Champions (Foto: Premier League)

MUNICH – CEO Bayern Munich, Karl-Heinz Rummenigge, kecewa terhadap keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang membatalkan hukuman Manchester City. Menurutnya, Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) sudah gagal dalam mengimplementasikan kebijakan Financial Fair Play (FFP).

Seperti diketahui, CAS mencabut hukuman larangan bermain selama dua tahun di Liga Champions yang dijatuhkan oleh UEFA pada 13 Juli 2020. Man City sebelumnya mengajukan banding atas hukuman dari UEFA tersebut dengan mengirimkan tim pengacara mumpuni.

CAS pada akhirnya merevisi hukuman menjadi hanya denda senilai 10 juta Euro (setara Rp171,5 miliar). Sebelum mengambil putusan, CAS sudah melihat bukti-bukti yang diajukan Man City atas klaim pelanggaran terhadap FFP sepanjang 2012-2016.

Baca juga: Pantang bagi Man City Pandang Remeh Madrid

Manchester City bebas dari hukuman UEFA (Foto: Twitter/@ManCity)

Putusan CAS pada akhirnya diprotes oleh sejumlah manajer klub Liga Inggris seperti Jurgen Klopp dan Jose Mourinho. Sementara itu, Karl-Heinz Rummenigge justru menudingkan jari pada UEFA yang dinilainya kurang tegas dan inkompeten dalam kasus tersebut.

Ketika Man City mengajukan banding, mereka pasti sudah menunjukkan bukti-bukti yang kuat. Sebaliknya, UEFA gagal mempersembahkan bukti yang kuat sehingga Man City bisa melihat adanya celah. Karena itu, Rummenigge yakin keputusan CAS tidak terlepas dari kelalaian UEFA.

“Saya yakin keputusan akhir dari CAS adalah hasil akhir dari pekerjaan buruk yang dilakukan panel UEFA yang bertanggung jawab untuk Liga Champions. Sepertinya begitu. Yang saya dengar, mereka tidak terlalu terorganisasi dengan baik,” serang Karl-Heinz Rummenigge, dilansir dari Goal, Rabu (29/7/2020).

“Kita harus mengubah FFP karena dalam 10 tahun terakhir, sepakbola berubah secara dramatis dalam hal perilaku finansial. Jadi, kita harus mencari alat kebijakan lain,” tutup pria berkebangsaan Jerman berusia 64 tahun tersebut.

(mrh)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini