Di dalam lapangan, coach Indra orang yang sangat tegas, penyemangat bagi pemain-pemain semua. Ia merupakan pelatih yang sangat taktikal dan sangat paham dengan permainan tim lawan. Di luar lapangan ia juga sangat dekat dengan pemain. Bisa dibilang ia merupakan ayah bagi para pemain.
5. Pada pertengahan 2016 Egy dipinjamkan PPLP Ragunan ke ASIOP Apacinti di turnamen Gothia Cup (Piala Dunia mini). Tidak sekadar membawa ASIOP juara, Egy juga keluar sebagai pemain terbaik dan top skor. Ada kendala saat tampil di sana?
Saat itu turnamen diperuntukkan bagi pemain kelahiran 2001 (Egy kelahiran 2000). Namun, setiap tim boleh memainkan 2-3 pemain yang berusia satu lebih tua, termasuk saya. Saat itu kesulitan yang saya alami adalah cuaca. Namun, perlahan-lahan saya mulai bisa beradaptasi. Selain itu, lawan-lawan di sana memang besar-besar, namun kami unggul kecepatan.
6. Di Turnamen Toulon 2017, Egy dapat trofi yang diperuntukkan bagi pemain yang memberi pengaruh bagi sebuah tim. Bagaimana perasaannya bisa mendapatkan trofi yang pernah didapat Cristiano Ronaldo dan Zidane?
Awalnya saya tidak tahu itu trofi apa. Awalnya saya kira trofi itu hanya untuk satu pertandingan itu saja (man of the match). Saat itu saya merasa belum menampilkan yang terbaik. Tapi itu penilaian panitia bagaimana saya bermain. Meski begitu, saya tetap akan kerja keras. Trofi takkan berarti tanpa adanya kerja keras.
7. Di Piala Suratin U-17, Egy membawa Persab Brebes juara dan keluar sebagai top skor, apa kunci suksesnya?
Ayah saya selalu bilang, jika target cetak gol, gol tidak akan datang. Bermain sepakbola itu untuk tim. Jika kita main tim dan kita main bagus, gol akan datang begitu saja. Kalau rezeki, baik top skor dan pemain terbaik itu hanyalah bonus. Jika tim sukses, kita juga akan sukses.
8. Di pertengahan tahun ini, Egy dapat kesempatan menjalani pelatnas bareng Timnas Indonesia U-22 yang notabene diisi Evan Dimas dan kawan-kawan. Bagaimana kesan-kesannya saat itu?
Senang banget bisa latihan bereng idola sendiri. Awalnya takut-takut juga latihannya karena bareng sama idola. Tidak menyangka bisa satu lapangan bareng idola.
9. Egy tampil maksimal di Piala AFF U-18 2017. Dari enam laga yang dimainkan Indonesia, negara mana yang paling sulit dihadapi?
Vietnam jadi yang tersulit. Mereka memiliki pertahanan rapi. Permainan mereka juga keras dan sering menghajar saya. Sementara lawan Thailand (di semifinal) kami hanya kalah beruntung. Rezeki memang belum berpihak ke kita.
10. Dari sekian banyak rekan Egy, selain Witan Sulaiman, ada sahabat lain di Timnas U-19?