Share

Comeback Dramatis di Final Liga Champions

Daniel Setiawan, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2015 16:28 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 04 51 1160202 comeback-dramatis-di-final-liga-champions-UUYnaeESWm.jpg Comeback dramatis dibabak final Liga Champions (Foto: Goal)

FINAL Liga Champions identik dengan pertandingan yang dramatis dan menguras emosi. Bukan hanya masalah keberuntungan yang menaungi tim juara, tetapi semangat juang dan mental untuk menjadi yang terbaik membuat laga final kadang berjalan penuh drama.

Berikut ini adalah beberapa pertandingan Final Liga Champions yang diwarnai oleh comeback spektakuler, Okezone merangkum dari berbagai sumber.

1. Final 1998-1999 – Manchester United vs Bayern Munich

Bisa jadi laga Manchester United melawan Bayern Munich di Stadion Camp Nou pada 26 Mei 1999 merupakan pertandingan comeback paling brilian yang pernah ada di Liga Champions. Tidak ada yang menyangka bahwa nasib salah satu klub berubah drastis di menit-menit akhir pertandingan.

Kedua klub datang ke babak final dengan status sebagai juara di kompetisi domestik masing-masing. Raksasa Bavaria saat itu juga telah menjadi kampiun Piala Jerman, dan menjadi runner-up DFB Pokal. Sementara United mengincar trofi ketiganya di satu musim setelah sebelumnya mengamankan gelar Premier League dan FA Cup.

Dua klub sudah bertemu dalam fase penyisihan grup. Tergabung bersama Barcelona dan Bronby di Grup D, Die Roten saat itu menjadi pemuncak klasemen dengan 11 poin, disusul oleh Setan Merah di peringkat kedua dengan 10 poin. Dua pertemuan mereka di babak penyisihan grup berakhir seri.

Pada babak final, Munich lebih dulu menyengat United melalui gol Mario Basler pada menit keenam. Pemain yang dibeli dari Werder Bremen tersebut mengeksekusi free kick dengan sempurna hingga kiper United saat itu, Peter Schmeichel, tidak berdaya. Namun mental juara ditunjukan oleh anak asuh Sir Alex Ferguson. Dua gol yang dicetak Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solksjaer pada tiga menit injury time membatalkan pesta Bayern Munich. Akhirnya Setan Merah menang dengan skor 2-1.

2. Final 2004-2005 – AC Milan vs Liverpool

Salah satu pertandingan comeback terbaik lainnya yang tercipta pada babak final Liga Champions. Tidak ada yang menyangka jika Liverpool mampu membalikan keadaan. Apalagi saat itu, AC Milan menunjukan penampilan yang begitu meyakinkan.

Perjalanan Rossoneri sebelum menapaki babak puncak memang begitu meyakinkan. Menjadi pemuncak klasemen pada babak penyisihan grup, lalu menumbangkan Manchester United, Inter Milan, dan PSV Eindhoven pada babak knock out.

Sementara Liverpool menghadapi fase yang cukup menantang sebelum menggapai final. The Reds berstatus runner up pada penyisihan grup. Menggilas Bayer Leverkusen di babak 16 besar dengan agregat 6-2, dan bertarung sengit saat menghadapi Juventus (agregat 2-1) dan Chelsea (agregat 1-0) di babak perempatfinal dan semifinal.

Pada pertandingan yang digelar di Stadion Ataturk Olympic, Turki, Milan menggebrak dengan mencetak tiga gol di babak pertama. Gol-gol tersebut dicetak oleh Maldini dan Hernan Crespo dengan dua golnya. Banyak yang meyakini bahwa Livepool sudah habis pada saat itu. Tidak ada harapan untuk klub Merseyside selain adanya keajaiban.

Keajaiban tersebut benar-benar datang pada babak kedua. Liverpool yang pada saat itu masih dinakhodai oleh Rafael Benitez berhasil menyamakan kedudukan. Tiga gol yang dicetak oleh Gerrard, Smicer, dan Alonso merobek gawang Dida di babak kedua. The Kop akhirnya memastikan diri menjadi juara setelah menang adu penalti 3-2.

3. Final 2005-2006 – Barcelona vs Arsenal

Tidak ada yang menyangka jika Arsenal mampu melaju hingga final Liga Champions pada musim 2005-2006. Prestasi itu membuat pasukan Arsene Wenger menggapai final Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, sekaligus menjadi klub pertama dari London yang menapaki final kompetisi tertinggi di Benua Biru.

Lawan The Gunners saat itu, Barcelona, merupakan klub yang memiliki segudang pengalaman di pentas kompetisi tertinggi di Eropa. Final di Stade de France merupakan laga kelima sepanjang sejarah Blaugrana.

Kedua tim sama-sama memulai kompetisi dengan baik. Meriam London menjadi juara Grup B yang diisi Ajax Amsterdam, FC Thun, dan Sparta Prague. Sementara El Barca menjadi pemuncak Grup C yang berpenghuni Werder Bremen, Udinese, serta Panathinaikos.

Pada babak puncak yang disaksikan oleh 79 ribu penonton itu, Arsenal memulai pertandingan dengan meyakinkan. Namun petaka terjadi ketika kiper mereka, Jens Lehmann, diusir keluar pada menit 18. Bermain dengan 10 orang, pasukan Arsene Wenger berhasil unggul terlebih dulu pada menit 37 melalui Sol Campbell.

Barca tidak panik, dan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk membombardir pertahanan Meriam London. Hasilnya pada menit 76 Samuel Eto’o membawa Barca menyamakan kedudukan. Blaugrana terus menekan klub London Utara, hingga akhirnya Juliano Belletti membawa Barca berbalik unggul sembilan menit sebelum waktu normal berakhir. Keunggulan 2-1 tidak berubah untuk kemenangan Blaugrana. Β 

4. Final 2013-2014 – Real Madrid vs Atletico Madrid

Derby Ibu Kota tersaji pada final Liga Champions musim lalu. Real Madrid bertemu seteru satu kota Atletico Madrid untuk memperebutkan si Kuping Besar di Estadio da Luz, Portugal. Untuk Los Colchoneros, final tersebut merupakan yang kedua.

Sementara untuk Madrid, mereka mengincar trofi kesepuluh atau La Decima di ajang paling bergengsi di Benua Biru itu. Baik Real maupun Atleti, keduanya sama-sama menunjukan penampilan yang superior dari mulai babak penyisihan grup.

Pada babak knockout, El Real menumbangkan tiga wakil Jerman di tiga fase knockout berbeda. Schalke 04 (16 Besar), Borussia Dortmund (perempatfinal), dan Bayern Munich (semifinal). Sementara Atletico Madrid mengalahkan Milan di babak 16 besar, lalu Barcelona di perempatfinal, dan wakil Inggris Chelsea di babak semifinal.

Pada pertandingan puncak, Atletico tidak gentar menghadapi sang rival abadi. Meski harus kehilangan bomber andalannya, Diego Costa, pada menit awal, anak asuh Diego Simeone tetap menunjukan determinasinya menghadapi El Real. Alhasil pada menit 36 tandukan Diego Godin membawa klub yang identik dengan warna putih-merah itu unggul.

Tertinggal satu gol membuat El Real semakin panas. Namun pertahanan Rojiblancos yang kokoh membuat serangan Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan menemui jalan buntu. Baru pada waktu injury time, Sergio Ramos menyamakan kedudukan untuk Los Blancos. Pada babak extra time, Madrid seolah kesetanan dan menghajar gawang Thibaut Courtois dengan tiga gol dari Gareth Bale, Marcelo, dan Ronaldo. Madrid menang 4-1 dan merengkuh gelar La Decima.

(fap)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini