Paolo Maldini dianggap sebagai salah satu bek terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Menghabiskan 25 tahun karier profesionalnya hanya untuk AC Milan, sang kapten legendaris berhasil menyabet lima trofi Liga Champions dan tujuh gelar Serie A.
Konsistensi luar biasa yang bertahan melintasi beberapa generasi ini tetap tidak cukup untuk memberikannya trofi Ballon d'Or, dengan posisi terbaiknya hanya meraih peringkat ketiga pada edisi 1994 dan 2003.
Sebagai pengatur tempo dan otak permainan Barcelona serta Timnas Spanyol di era keemasannya, Xavi Hernandez diakui sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang masa. Visi bermain, kreativitas, dan akurasi umpannya tak tertandingi.
Kendati menjadi motor utama permainan tim yang memenangkan banyak gelar bergengsi, pencapaian individu tertinggi Xavi di panggung Ballon d'Or hanya berada di posisi ketiga.
Penampilan luar biasa Luis Suarez pada musim 2013-2014 di Liga Inggris bersama Liverpool sejatinya sudah sangat layak membawanya meraih Ballon d'Or. Bahkan setelah pindah ke Barcelona dan memenangkan Sepatu Emas Eropa, penyerang asal Uruguay ini tetap membuktikan diri sebagai salah satu pencetak gol terbaik dalam sejarah.
Namun, seperti halnya Neymar, Suarez harus berada di bawah bayang-bayang rekan satu timnya sendiri, Lionel Messi.
(Rivan Nasri Rachman)