GELARAN Piala Dunia 2026 banyak diwarnai bumbu-bumbu kontroversial yang menjadi pembicaraan para pencinta sepak bola dunia. Sorotan tajam kini tertuju pada Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang dinilai melakukan tindakan kontroversial yang mencederai sportivitas.
Sejak sebelum turnamen dimulai, kedekatan Infantino dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sudah memicu riak di internal FIFA. Infantino sempat membuat internal federasi sangat malu setelah menyerahkan penghargaan perdamaian perdana kepada Trump.
Puncaknya terjadi saat FIFA mengambil keputusan tak lazim dengan membatalkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat (AS), Folarin Balogun, agar bisa tampil melawan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Keputusan kontroversial yang diduga kuat akibat tekanan politik Trump ini memicu kemarahan para politisi di Eropa.
Sebagai informasi, Balogun menerima kartu merah langsung saat AS mengalahkan Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar. Namun, secara mengejutkan FIFA justru menangguhkan hukuman larangan bertanding striker berusia 25 tahun itu selama satu tahun, sehingga ia bisa bermain melawan Belgia.
Langkah aneh tersebut memicu reaksi keras dari tiga anggota Parlemen Eropa: Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang. Mereka menggalang dukungan dari puluhan legislator lainnya untuk meluncurkan penyelidikan resmi terhadap penyalahgunaan wewenang Infantino. Mereka menilai FIFA telah menyerah total pada tuntutan pemerintahan Trump.
"Mengubah aturan skorsing kartu merah di tengah-tengah turnamen adalah sebuah aib dan penyimpangan keadilan," bunyi pernyataan resmi bersama para legislator Eropa tersebut, dilansir dari ESPN, Kamis (9/7/2026).
Melalui laporan ESPN, para politisi Eropa kini meminta asosiasi sepak bola di negara-negara Uni Eropa untuk mendesak Komite Etik FIFA memeriksa Infantino. Mereka ingin mengusut adanya pelanggaran netralitas politik, termasuk pemberian hadiah Peace Prize kepada Trump.
Hingga saat ini, surat desakan tersebut telah ditandatangani oleh 35 anggota parlemen. Mereka menegaskan keindahan olahraga terletak pada aturan yang adil dan transparan, yang kini dirusak oleh intervensi politik luar.
Di sisi lain, Donald Trump secara terbuka mengakui dirinya memang menelepon FIFA sebanyak tiga kali untuk meninjau ulang kartu merah Balogun. Namun, Trump membantah jika Infantino yang mengambil keputusan akhir secara sepihak, melainkan melalui komite disiplin independen.
Pihak FIFA sendiri berkilah pemulihan status bermain Balogun murni keputusan komite disiplin dan bukan intervensi pribadi. Ironisnya, FIFA selama ini dikenal sangat mengharamkan intervensi politik dan tercatat pernah menjatuhkan sanksi larangan bertanding kepada 10 negara akibat alasan tersebut.
(Rivan Nasri Rachman)