FEDERASI Sepakbola Eropa (UEFA) angkat bicara soal kontroversi pencabutan sanksi kartu merah striker Timnas Amerika Serikat (AS) Folarin Balogun. Mereka menuduh FIFA sudah kelewat batas.
Balogun sedianya menjalani sanksi larangan bermain satu pertandingan. Eks Arsenal itu dikartu merah wasit pada laga kontra Timnas Bosnia & Herzegovina di 32 besar Piala Dunia 2026.
Tapi, FIFA lantas mencabut sanksi otomatis tersebut. Balogun diizinkan bermain karena hukumannya diubah menjadi masa percobaan selama satu tahun (probation).
Timnas Belgia, yang sedianya akan menghadapi AS di 16 besar Piala Dunia 2026, marah besar. UEFA juga angkat bicara mengenai sikap FIFA yang mencla-mencle tersebut.
“Keputusan untuk menangguhkan penerapan hukuman larangan bermain satu pertandingan secara otomatis setelah kartu merah yang diberikan kepada Folarin Balogun untuk jangka waktu percobaan selama satu tahun telah melampaui batas,” bunyi pernyataan UEFA, dikutip Senin (6/7/2026).
“Sepakbola, seperti olahraga lainnya, bergantung pada aturan, yang merupakan dasar untuk kompetisi yang adil, jujur, dan transparan. Terkadang aturan dapat diinterpretasikan berbeda-beda. Dalam kasus ini tidak,” tegas mereka.
“Hukuman skorsing otomatis minimal satu pertandingan setelah kartu merah bukanlah pilihan diskresioner dan tidak memerlukan keputusan dari badan yang berwenang untuk diberlakukan,” lanjut UEFA.
“Ini adalah prinsip yang tertanam dalam peraturan, yang tidak dapat dikecualikan, apalagi di tengah turnamen di mana beberapa pemain lain telah berada dalam situasi yang sama dan secara teratur menjalani skorsing mereka,” tutup UEFA.
Statement tersebut muncul setelah ada dugaan intervensi dari Pemerintah AS terhadap FIFA terkait pencabutan sanksi Balogun. Mereka meyakini keputusan itu akan merugikan serta merusak citra Piala Dunia.
“Ketika kepastian aturan tidak lagi dijamin oleh para penjaganya, integritas permainan dipertaruhkan dan kredibilitas kompetisi dirusak,” sergah UEFA.
“Demikian pula, keputusan tersebut menciptakan preseden dalam turnamen yang sedang berlangsung, di mana situasi serupa sekarang akan memerlukan perlakuan yang sama, yang merugikan kompetisi,” sambung mereka.
“Kami menyatakan ketidakpercayaan kami atas keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan tersebut,” tutup pernyataan resmi tersebut.
(Wikanto Arungbudoyo)