TIM Nasional (Timnas) Indonesia tampaknya wajib memenangkan FIFA ASEAN Cup 2026. Pasalnya turnamen perdana yang digagas langsung oleh Federasi Sepak Bola Dunia, FIFA, ini menjanjikan guyuran bonus yang sangat menggiurkan, yakni sebesar USD 1 juta atau sekira Rp17,3 miliar!
Angka fantastis tersebut jauh melampaui hadiah utama Asean Championship (Piala AFF) 2024 yang dimenangkan Vietnam, di mana mereka hanya mengantongi USD 300.000 (Rp5,2 miliar). Secara total, FIFA dikabarkan telah menyiapkan dana lebih dari USD 4 juta (Rp69 miliar) untuk dialokasikan sebagai biaya partisipasi, bonus hasil pertandingan, hingga hadiah bagi para pemenang di setiap divisi.
FIFA ASEAN Cup yang dijadwalkan berlangsung pada 21 September hingga 6 Oktober 2026 ini akan menggunakan format yang unik. Berdasarkan dokumen yang beredar di Kongres FIFA Vancouver, turnamen ini akan dibagi menjadi dua divisi dengan total 14 tim partisipan.
Menariknya, FIFA tidak hanya melibatkan 11 negara Asia Tenggara, tetapi juga berencana mengundang raksasa pasar Asia lainnya seperti China, India, dan Hong Kong. Pembagian divisi kemungkinan besar ditentukan melalui peringkat dunia FIFA.
Berdasarkan peringkat saat ini, Divisi 1 akan dihuni oleh tim-tim kuat seperti Thailand, China, Vietnam, Timnas Indonesia, Filipina, India, Malaysia, dan Singapura. Sementara itu, Divisi 2 akan diisi oleh Hong Kong, Myanmar, Kamboja, Laos, Brunei, dan Timor Leste.
Seluruh pertandingan grup Divisi 1 direncanakan digelar di Indonesia dan satu lokasi lain yang masih menunggu konfirmasi, sedangkan Divisi 2 akan dipusatkan di Hong Kong.
Hadirnya turnamen ini disambut baik oleh para pemain, termasuk kapten Timnas Singapura, Hariss Harun. Ia menilai pengakuan FIFA terhadap sepak bola Asia Tenggara adalah langkah besar yang bisa memastikan keterlibatan pemain-pemain terbaik yang merumput di luar negeri, karena turnamen ini masuk dalam kalender internasional.
"Ini bisa membawa sepak bola kawasan ini lebih maju. Mungkin FIFA Asean Cup akan memungkinkan pemain-pemain terbaik untuk terlibat," ujar Harris, dikutip dari Straits Times, Rabu (6/5/2026).
Meski demikian, suara keraguan tetap muncul dari kalangan pengamat. Konsultan sepak bola Khairul Asyraf menilai turnamen ini berisiko menjadi ajang redundansi karena jadwalnya yang berdekatan dengan kompetisi lain. Dengan masuknya China dan India, rivalitas kental khas Asia Tenggara dikhawatirkan akan memudar.
Selain itu, ada anggapan bahwa FIFA tengah berupaya memonetisasi pasar besar di China dan India melalui turnamen kasta ketiga ini. Terlepas dari kritik tersebut, FIFA diharapkan akan meresmikan detail lengkap turnamen ini pada Juni 2026 mendatang.
(Rivan Nasri Rachman)