2. Sistem Pelatihan
Sistem yang digunakan untuk melatih para punggawa timnas dari kedua pelatih sangat berbeda. Shin Tae-yong memiliki sistem pelatihan yang sangat tegas dan disiplin.
Tidak hanya untuk sesi latihan, Shin Tae-yong juga sangat ketat untuk mengatur pola makan para pemain. Bahkan saking tegas dan disiplinnya, Shin Tae-yong tidak segan untuk mencoret pemain-pemain indisipliner untuk diganti dengan pemain yang jauh lebih patuh.
Sebut saja nama-nama seperti Nur Hidayat, Yudha Febrian dan Serdy Fano adalah deretan nama yang telah dicoret dari dari skuad asuhan Shin Tae Yong. Berbeda dengan Shin Tae-yong, hal-hal seperti ini kurang terlihat di Timnas Indonesia saat era Simon Mcmenemy.
1. Prestasi
Tidak dapat dipungkiri, prestasi menjadi faktor terdepan bertahan lama atau tidaknya seorang pelatih di sebuah tim. Selama kurun waktu 11 bulan Simon Mcmenemy menjadi juru taktik Timnas Indonesia, tidak ada satupun prestasi yang diraihnya.
Bahkan banyak pihak yang menilai jika performa timnas semakin menurun di bawah asuhan Simon Mcmenemy. Berbanding terbalik dengan Simon, di bawah asuhan Shin Tae-yong timnas mendapat berbagai prestasi.
Meskipun belum sekalipun menjadi juara, namun Skuad Garuda sukses menjadi runner up Piala AFF 2020, meraih medali perunggu pada SEA Games 2021 dan mengantarkan Timnas Indonesia kembali lolos ke putaran final Piala Asia 2023 setelah hampir 16 tahun lamanya. Selain itu, posisi Indonesia di ranking FIFA juga mengalami kenaikan yang cukup drastis.
Itulah 3 perbedaan mencolok Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong dan Simon Mcmenemy.
(Dimas Khaidar)