Sejarah sepakbola Prancis dengan kaum imigran dimulai pada paruh pertama abad ke-20. Pembentukan RC Lens dan AS Saint-Ettienne yang dibangun komunitas pertambangan yang terdiri dari imigran Polandia dan Italia jadi salah satu tonggaknya
Pada Piala Dunia 1938 di kandang sendiri, Timnas Prancis menurunkan pemain kulit hitam pertamanya, Raoul Diagne, bek serba bisa yang dijuluki "laba-laba hitam" yang lahir di Guyana Prancis dan keturunan Senegal.
Pada awal 1970-an, Prancis mulai merestrukturisasi sistem pembinaan. Hasilnya adalah sistem akademi canggih yang merekrut dan melatih pemain muda, banyak di antaranya tumbuh di lingkungan imigran.
Dari akademi tersebut lahir pemain-pemain keturunan imigran, salah satunya pencetak gol terbanyak sepanjang masa Thierry Henry yang lahir di pinggiran Paris Les Ulis dari orang tua dari Guadeloupe dan Martinik.
Prancis menjadi juara di Rusia pada Piala Dunia 2018 setelah menjadi finalis di Piala Eropa 2016. Pada saat itu, mereka memiliki 17 dari 23 pemain yang memiliki darah keturunan non-Eropa, termasuk di antaranya adalah Kylian Mbappe yang keturunan Kamerun-Aljzair.
Timnas Prancis yang saat ini berlaga di Piala Dunia Qatar 2022 juga tak lepas dari para pemain keturunan. Sebagian besar pemain di starting XI adalah keturunan. Selain Mbappe yang jadi top skor ada juga Dayot Upamecano, yang merupakan keturunan Guinea-Bissau, dan Aurelien Tchouameni (Kamerun).
(Reinaldy Darius)