HAMPIR semua pesepakbola di muka bumi ini memiliki keinginan merumput bersama Real Madrid. Kesempatan meraih trofi bergengsi jadi salah satu alasan mengapa pemain-pemain itu ingin merasakan sensasi mengenakan seragam kebesaran Los Blancos –julukan Madrid.
Bahkan, ada beberapa pesepakbola yang sudah membela panji Madrid sejak di akademi atau tim junior. Akan tetapi, berhubung tim senior Madrid lebih sering mengandalkan pemain asing, pemain-pemain itu kerap layu sebelum berkembang, sehingga justru bersinar di klub lain. Siapa saja mereka?
Berikut 5 pemain yang ternyata pemain jebolan akademi Madrid:
5. Marcos Alonso (Chelsea)
(Foto: REUTERS)
Marcos Alonso saat ini terkenal sebagai pemain andalan Chelsea untuk mengawal sisi kiri pertahanan. Pesepakbola 27 tahun itu tak hanya andal dalam membantu pertahanan, namun juga piawai membangun serangan. Bisa dibilang, Chelsea keluar sebagai juara Liga Inggris 2016-2017 salah satunya merupakan andil dari pemain Fiorentina tersebut.
Terkait Madrid, Alonso gabung akademi Madrid di usia 9 tahun atau pada 1999. Setelah sembilan tahun menimba ilmu di tim junior Madrid, Alonso dipromosikan ke tim kedua Madrid, Madrid Castilla pada 2008. Selama dua tahun (2008-2010) ia membela tim Madrid Castilla, sebelum akhirnya diboyong Bolton pada 2010.
4. Kiko Casilla (Real Madrid)
(Foto: AFP)
Casilla gabung akademi Madrid pada 2000 atau ketika berusia 14 tahun. Empat tahun kemudian, ia dipromosikan ke tim C Madrid, sebelum naik pangkat ke Madrid Castilla pada 2007. Karena kesulitan naik ke tim senior, Casilla sempat dipinjamkan ke beberapa klub sebelum akhirnya dibeli secara permanen oleh Espanyol pada 2011.
Bersama Espanyol (2011-2015) itulah, kualitas Casilla terasah. Bahkan ia sempat membela Timnas Spanyol pada 18 November 2014 berkat penampilan heroiknya bersama Los Periquitos –julukan Espanyol. Pada bursa transfer musim panas 2015, Casilla diboyong Madrid pulang ke Santiago Bernabeu. Saat ini, Casilla jadi kiper ketiga Madrid di bawah Thibaut Courtois dan Keyloir Navas.
3. Juanfran (Atletico Madrid)
(Foto: REUTERS)
Setelah lulus dari akademi Madrid pada 2003 atau ketika usianya 18 tahun, Juanfran dipromosikan ke tim kedua Madrid, Madrid Castilla. Pesepakbola yang biasa mentas di posisi fullback kanan itu menjalani dua musim bersama Madrid Castilla.
Setelah itu, Juanfran sempat membela Espanyol dan Osasuna hingga akhirnya diboyong Atletico Madrid pada 2011. Bisa dibilang, tiap kali menghadapi Madrid, Juanfran, selalu tampil mati-matian. Hal itu sebagai cara fullback 32 tahun itu untuk menunjukkan bahwa Madrid salah telah membuangnya.
2. Kamil Glik (AS Monaco)
(Foto: AFP)
Glik sempat membela tim Madrid C pada 2007-2008 di usia yang masih sangat belia yakni 19 tahun. Akan tetapi, karena melihat dirinya gagal berkembang bersama tim Madrid C, Glik memutuskan kembali ke negaranya, Polandia, dengan bergabung bersama Piast Gliwice pada bursa transfer musim panas 2008.
Setelah dua musim membela Gliwice, Glik menjajal karier di Italia dengan berseragam Bari, Palermo dan Torino. Kemudian sejak musim panas 2016, Glik membela AS Monaco dan bisa dibilang bek 30 tahun itu sebagai salah satu palang pintu terbaik di dunia saat ini.
1. Saul Niguez (Atletico Madrid)
(Foto: REUTERS)
Di usia 11 tahun atau pada 2006, Saul diterima di akademi Madrid. Saat itu, Saul senang bukan main karena dapat bergabung di akademi yang sering menelurkan pesepakbola berkelas dunia, ambil contoh Iker Casillas, Juan Mata, Raul Gonzalez dan banyak lagi.
Akan tetapi, perlakuan buruk justru dialami Saul. Gelandang yang kini berusia 22 tahun itu kerap dikerjai rekan-rekannya. Sebut saja seperti jatah makanan dan sepatu milik Saul sering dicuri oleh teman-temannya.
Setelah dua tahun hidup penuh tekanan, Saul hengkang ke tim junior Atletico Madrid pada 2008. Sejak saat itu karier Saul meningkat pesat. Mencuat ketika dipinjamkan ke Rayo Vallecano pada 2013-2014, sejak 2014-2015 Saul didaulat sebagai gelandang andalan Atletico racikan Diego Simeone. Bahkan saat ini, Saul juga berstatus sebagai pemain andalan Timnas Spanyol.
(Ramdani Bur)