REAL Madrid menjalani 2017 dengan sejumlah catatan luar biasa. Mulai dari kampiun di Liga Spanyol 2016-2017, mempertahankan titel Liga Champions, serta menjadi klub pertama yang memenangkan titel Piala Dunia Klub dua tahun beruntun.
Akan tetapi apakah dominasi Madrid tersebut bakal kembali terulang pada 2018? Tentu jawaban yang belum dapat dijawab hingga akhir tahun nanti. Namun, sudah ada tanda-tanda bahwa catatan manis Madrid itu sangat sulit kembali terulang pada tahun ini.
Terlebih terdapat sejumlah faktor yang menguatkan bahwa bakal runtuhnya dominasi Madrid di musim ini. Setidaknya terdapat empat faktor yang berpeluang besar menghentikan dominasi klub berjuluk Los Merengues tersebut.
Berikut empat faktor yang bisa menghentikan dominasi Real Madrid di 2018:
4. Strategi Real Madrid Sudah Terbaca oleh Lawan
(Foto: AFP/Philippe Marcou)
Pada awal kehadiran Zinedine Zidane sebagai pelatih Madrid, ia memang langsung menerapkan sejumlah gaya bermain yang aktraktif serta menghibur. Hingga akhirnya sejumlah catatan impresif pun mampu Zidane dapatkan.
Namun untuk musim 2017-2018, strategi Zidane tampaknya sudah mulai mampu dibaca oleh para pesaing mereka. Hal tersebut terbutki dengan kerap kesulitannya Madrid meraih poin penuh dalam sejumlah laga, termasuk melawan tim-tim medioker.
Bahkan di Liga Champions, Madrid pun harus puas finis di posisi kedua setelah gagal bersaing dengan Tottenham Hotspur. Sedangkan di Liga Spanyol meski masih memiliki peluang menjadi juara, berat rasanya mereka mengejar ketertinggalan dari Barcelona.
Ya, Madrid sendiri hingga saat ini terpaut 16 poin dari seteru abadinya tersebut di klasemen sementara Liga Spanyol 2017-2018.
3. Bukan Lagi Klub Prioritas untuk Pemain Berlabel Bintang
(Foto: REUTERS/Stephane Mahe)
Madrid sempat mendapatkan status sebagai klub yang gemar membeli pemain berlabel bintang. Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir, status tersebut tampaknya sudah tidak begitu melekat pada diri mereka.
Hal itu terbukti dengan kerap gagalnya Madrid bersaing dalam mendapatkan pemain buruan mereka. Pada bursa transfer musim panas kemarin saja, nama besar Madrid nyatanya tidak lantas membuat Kylian Mbappe tertarik untuk bergabung.
Mbappe justru lebih memilih melanjutkan karier di Paris Saint-Germain demi bisa ‘belajar’ dari sosok Neymar Junior. Bukan hanya Mbappe, sejumlah nama macam Paul Pogba, Paulo Dybala, hingga Eden Hazard juga kabarnya menolak berlabuh ke Madrid.
Situasi tersebut membuat tugas Zidane membentuk skuad yang lebih baik di setiap musimnya pun menjadi tersendat. Sementara para pesaing mereka mampu menguatkan skuad dengan hadirnya para pemain berkualitas.
2. Penurunan Performa Cristiano Ronaldo
(Foto: Gerard Julien/AFP)
Tidak bisa dipungkiri, nama Cristiano Ronaldo memang memiliki peran yang benar-benar sangat krusial terhadap permainan Madrid. Bisa dikatakan, kapten Timnas Portugal tersebut merupakan tulang rusuk bagi Madrid.
Jadi jika Ronaldo tidak sedang tampil baik, maka memburuk jugalah permainan Madrid. Itu terbukti pada sejumlah laga-laga awal musim 2017-2018, di mana Ronaldo bermain buruk dan Madrid pun gagal meraih hasil maksimal.
Faktor usia yang sudah tidak muda lagi pun disinyalir menjadi salah satu penyebab penurunan performa Ronaldo. Ya, mantan bintang Manchester United sendiri kini telah berusia 32 tahun atau sudah melewati masa-masa produktif sebagai seorang pesepakbola profesional.
1. Para Pemain Pelapis Tak Lagi Tampil Menjanjikan
(Foto: REUTERS/Vincent West)
Salah satu alasan mengapa Madrid bisa sebegitu tampil luar biasa dalam kurun dua tahun terakhir, karena adanya skuad yang nyaris seimbang antara tim utama dan tim cadangan. Namun hal itu tampak hilang begitu saja pada musim 2017-2018.
Madrid memang masih memiliki sejumlah nama macam Marco Asensio, Lucas Vazquez, Mateo Kovacic, serta Jesus Vallejo. Namun, keputusan manajemen Madrid melepas Alvaro Morata dan James Rodriguez dinilai sebagai awal penurunan performa Los Blancos.
Pasalnya kepergian kedua pemain tersebut, praktis membuat Zidane kehilangan pilihannya di bangku cadangan jika ada beberapa pemain di skuad utama yang tak dalam kondisi fit atau sedang dalam performa impresif.