KONFEDERASI Sepak Bola Asia (AFC) secara resmi memutuskan untuk menunda gelaran Piala Asia 2027 akibat situasi keamanan yang tidak menentu di Timur Tengah. Turnamen akbar yang sedianya dihelat pada Januari 2027 kini diundur menjadi akhir Desember 2027 hingga Januari 2028.
Keputusan mendadak ini diambil demi menjamin keselamatan pemain, ofisial, serta suporter. Pasalnya, ketegangan regional yang melibatkan Arab Saudi dan Houthi membuat sejumlah bandara internasional di negara tuan rumah sempat menghadapi situasi berbahaya.
Perubahan jadwal yang hampir mendekati satu tahun penuh ini langsung memicu efek domino bagi peta kekuatan sepak bola Asia. Salah satu dampak paling nyata dirasakan oleh Tim Nasional (Timnas) Jepang yang tergabung di Grup F bersama Timnas Indonesia, Qatar, dan Thailand.
Bagi skuad Garuda, dinamika internal di tubuh tim Samurai Biru ini tentu membawa angin segar sekaligus celah tersendiri. Terlebih, masa depan kursi kepelatihan Jepang kini tengah berada di ambang ketidakpastian menyusul mundurnya jadwal turnamen.
Sebelumnya, pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu, dikabarkan hanya menandatangani kontrak jangka pendek hingga Februari 2027 dan berencana mundur usai Piala Asia 2027. Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) bahkan sudah menyiapkan Go Oiwa sebagai suksesornya.
Namun, dengan mundurnya jadwal ke akhir 2027, kontrak Moriyasu dipastikan habis sebelum turnamen dimulai. Situasi ini menciptakan kekosongan kepemimpinan atau memaksa JFA memperpanjang masa kerja pelatih yang sejatinya sudah bersiap hengkang.
Bagi Timnas Indonesia, transisi kepelatihan Jepang ini bisa menjadi momen krusial. Jika Jepang mengalami pergantian nakhoda di tengah jalan atau memercayakan tim kepada pelatih baru seperti Go Oiwa, proses adaptasi taktik Samurai Biru berpotensi mengalami sedikit guncangan.