Tekanan psikologis yang begitu masif dari puluhan ribu suporter fanatik justru menjelma menjadi bahan bakar mental yang membakar semangat juang para penggawa tuan rumah. Enrique bahkan sempat berdiskusi dengan rekan setimnya di atas lapangan karena kemenangan yang begitu pekat malam itu.
"Aku ingat berkata kepada Pitu, kurasa ada Pep juga saat itu, 'tidak mungkin kita kalah. Tidak peduli siapa yang mengenakan jersey Barcelona, mustahil bagi kita untuk kalah'. Ada energi yang bahkan terasa begitu menakutkan," tutur Enrique.
Keyakinan tersebut benar-benar terwujud di atas lapangan ketika Barcelona sukses membungkam Real Madrid dengan skor meyakinkan 2-0, di mana salah satu gol kemenangan tersebut dicetak oleh Luis Enrique sendiri. Pertarungan sengit itu turut diwarnai aksi lugas bek muda Carles Puyol yang mati-matian mengawal pergerakan Figo sepanjang laga.
Meski atmosfer pertandingan diwarnai permusuhan yang begitu pekat, Enrique memandang bahwa rivalitas abadi antara Barcelona dan Real Madrid merupakan elemen penting yang menghidupkan sepak bola modern. Di sisi lain, ketika disinggung mengenai peluang kembali menukangi Blaugrana di masa depan, pelatih berusia paruh baya itu dengan tegas menutup pintu kepulangannya.
(Rivan Nasri Rachman)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.