MANTAN pelatih klub Liga Inggris Southampton Ralph Hasenhüttl ternyata pernah terinfeksi Hantavirus pada tahun 2012. Pengalaman menyakitkan itu membuat Manajer Liga Inggris nyaris meregang nyawa.
Kisah yang hampir merenggut nyawanya ini kembali menjadi sorotan dunia seiring munculnya dugaan wabah hantavirus di kapal pesiar mewah MV Hondius milik Belanda. Berdasarkan informasi terbaru hingga 11 Mei 2026, hantavirus yang melanda kapal pesiar di Samudra Atlantik telah menyebabkan tiga orang penumpang meninggal dunia dan beberapa warga Inggris harus dirawat intensif.
World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa wabah ini bukan awal pandemi baru dan risiko terhadap publik secara keseluruhan masih rendah, karena penyebarannya jauh lebih lambat dibanding COVID-19.
Ralph Hasenhüttl adalah pelatih sepak bola asal Austria yang namanya dikenal luas di Liga Inggris. Ia menangani Southampton 2018 hingga 2022.
Tepatnya pada tanggal 5 Desember 2012 Hasenhüttl resmi diangkat sebagai manajer baru Southampton menggantikan Mark Hughes, menjadikannya orang Austria pertama sebagai manajer Liga Inggris.
Kariernya terus menanjak setelah menangani klub-klub seperti FC Ingolstadt dan RB Leipzig. Bersama Leipzig, ia berhasil membawa klub tersebut menjadi kekuatan baru Bundesliga dan tampil di kompetisi Eropa.
Dalam wawancaranya dengan The Mirror, Hasenhüttl menceritakan pengalaman sulit yang dihadapinya setelah tertular virus tersebut pada tahun 2012.
Awalnya, pria Austria itu mengira hanya kelelahan biasa yang dirasakannya usai bersepeda gunung. Namun, kesehatannya terus memburuk saat ia sedang menyapu teras rumahnya.
"Saya pergi tidur dan saat itulah sakit kepala saya mulai terasa," jelasnya.
"Rasanya seperti ada jarum di dalam kepala saya. Lalu saya mulai merasakan sakit punggung yang begitu hebat. Rasanya seperti ada pisau di punggung saya."
Pria asal Austria itu dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani perawatan intensif selama dua minggu. Kondisi kian memburuk, detak jantung Hasenhüttl menjadi sangat intens hingga sulit membangunkannya dari tidur. Ia bahkan sempat kehilangan kesadaran dalam waktu yang cukup lama.
Kenyataan pahit yang harus ia terima saat dirawat intensif di ICU karena tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk melawan hantavirus.
Dokter menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah menunggu tubuh membentuk antibodinya sendiri. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada terapi yang bisa mempercepat proses itu.
Hasenhüttl menyebut masa-masa kristis di ICU sebagai pengalaman paling berat dalam hidupnya. Ia harus memantau kondisi tubuh dari hari ke hari tanpa kepastian kondisinya akan membaik atau tidak.
Singkat cerita, setelah dua minggu berjuang menjalani perawatan intensif, kondisinya perlahan membaik. Antibodi dalam tubuh mulai bekerja dan organ-organ vitalnya kembali stabil.
Kisah Ralph Hasenhüttl dan pengalamannya melawan hantavirus mematikan ini adalah pengingat keras bahwa ancaman kesehatan bisa datang dari tempat yang paling tidak terduga. Terlebih wabah ini kembali mencuat dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
(Dian AF)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.