MENGENAL Andi Ramang, legenda sepakbola Indonesia yang ditakuri dunia hingga diakui FIFA menarik untuk dibahas. Apalagi belum ada pesepakbola Tanah Air yang kini mampu menyamai pencapaian pesepakbola yang juga memiliki julukan Kurcaci Monster tersebut.
Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia (RI) yang jatuh hari ini, Sabtu (17/8/2024), ada baiknya kita mengenal siapa saja pahlawan atau tokoh penting yang berhasil mengharumkan nama bangsa. Di dunia olahraga, khususnya sepakbola, Andi Ramang adalah salah satu tokoh yang patut untuk diketahui.
Indonesia sejatinya memiliki banyak sekali legenda sepakbola hebat. Namun, hanya Andi Ramang yang diakui Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) hingga ditakuti dunia karena kehebatannya dalam mengolah si kulit bundar.
Andi Ramang berjaya di era 1940 sampai 1960-an. Ia pun dikenal sebagai salah satu pemain andalan PSM Makassar.

Dunia pun mengenal Andi Ramang ketika ia dipanggil untuk membela Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Andi Ramang pun masuk ke dalam skuad Garuda yang dikirimkan untuk tampil di Olimpiade 1956 Melbourne.
Sebelum berlaga di event olahraga terbesar di dunia, Ramang dan kolega sempat menjalani uji coba melawan Filipina, Hong Kong, Muangthai (Thailand), dan Malaysia. Hasilnya, skuad Garuda sukses melumat semua lawannya dan mencetak total 25 gol dimana 19 diantaranya dicetak lewat kaki Ramang.

Selanjutnya, pesta olahraga multievent terbesar di dunia itu seakan menjadi panggung Andi Ramang. Bagaimana tidak, pria kelahiran 24 April 1924 itu mampu membuat sejumlah negara kerepotan meladeni permainan gesitnya hingga disebut-sebut sebagai kurcaci monster.
Andi Ramang mencuri perhatian ketika Timnas Indonesia menghadapi Uni Soviet di babak perempatfinal. Kala itu, Andi Ramang yang memiliki postur tubuh kecil justru mampu bersaing melawan bek-bek besar nan tangguh dari Uni Soviet.
Bahkan salah satu kiper terhebat dunia yang membela Uni Soviet saat itu, yakni Lev Yashin dibuat jatuh bangun untuk menepis tendangan dari Andi Ramang.

“Bek-bek Uni Soviet yang bertubuh raksasa langsung terbangun saat Ramang yang bertubuh mungil melewati dua pemain dan memaksa Lev Yashin melakukan beberapa aksi penyelamatan,” begitu isi keterangan FIFA saat memperingati 25 tahun meninggalnya Andi Ramang pada September 2012 silam.
"Tidak hanya Uni Soviet dan Lev Yashin yang kewalahan menghadapi Indonesia dengan Ramang-nya. Tapi Jerman Timur juga pernah merasakan ketangguhan Timnas Indonesia yang membuat mereka (Jerman Timur) nyaris kalah," lanjut pernyataan FIFA.

Meski menyulitkan Lev Yashin, laga berakhir 0-0 dan membuat pertandingan Timnas Indonesia kontra Uni Soviet dilanjutkan ke partai ulangan. Di laga kedua, Andi Ramang sudah dikenal dan penjagaan ketat pun dilakukan Uni Soviet,
Alhasil, Timnas Indonesia justru kalah 0-4 dan gagal melaju ke semifinal Olimpiade 1956 Melbourne, Meski gagal menang, penampilan Andi Ramang berhasil mencuri perhatian dunia.
Usai turnamen itu, julukan Kurcaci Monster melekat di diri Andi Ramang karena bentuk tubuhnya yang lebih kecil ketimbang lawan-lawannya saat itu. Hebatnya, Andi Ramang tetap bisa bermain baik melawan pemain yang berpostur besar.
Julukan Kurcaci Monster itu pun sudah dikonfirmasi oleh FIFA langsung. Sebab dalam artikel yang dirilis pada 2012 silam untuk mengenang Andi Ramang, FIFA menyebut pria asal Sulawesi Selatan itu sebagai Kurcaci Monster.

Sayangnya, karier Andi Ramang setelah itu tak berakhir manis, Sempat tersandung masalah kasus suap, ia mengalami masalah ekonomi, dan menutup usia pada 1987 silam.
Sejauh ini, skuad Andi Ramang masih menjadi satu-satunya Timnas Indonesia yang bisa tampil di ajang Olimpiade. Pada Olimpiade Paris 2024, Timnas Indonesia sejatinya nyaris saja bergabung.
Hanya saja dalam perebutan tiket playoff ke Olimpiade Paris 2024, Timnas Indonesia asuhan Shin Tae-yong justru gagal mengalahkan Guinea U-23. Sebelumnya Garuda juga gagal merebut tiket via jalur peringkat tiga terbaik di Piala Asia U-23 2024.

Jadi, sampai saat ini Timnas Indonesia yang diperkuat Andi Ramang, Ramlan, Endang Witarsa, Thio Him Tjiang, dan Maulwi Saelan yang dilatih oleh Antun Toni Pogacnik masih menjadi satu-satunya Timnas Indonesia yang tampil di Olimpiade.
(Rivan Nasri Rachman)