JAKARTA – Ketua Umum (Ketum) PSSI, Erick Thohir, buka suara soal hukuman untuk klub Liga 2, Persiraja Banda Aceh. Dia memastikan hukuman itu diberikan bukan karena pengibaran bendera Palestina, melainkan akibat pitch invasion yang dilakukan oknum suporter klub terkait.
Sebagaimana diketahui, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mendenda Persiraja sebesar Rp10 juta pada beberapa hari lalu. Hukuman itu akibat ulah oknum suporter yang masuk ke lapangan ketika Persiraja melawan Semen Padang dalam lanjutan Liga 2 2023-2024 pada Oktober 2023.

Seorang suporter mengitari lapangan sambil mengibarkan bendera Palestina tanpa izin. Aksi itu dilakukan saat pertandingan telah selesai.
Meski demikian, tindakan tersebut tetap dianggap melenceng dari aturan. Alhasil, Persiraja terpaksa menerima sanksi dari Komdis PSSI akibat pitch invasion itu.
"Jadi tegas yang terjadi di Persiraja bukan karena ada suporter mengibarkan bendera Palestina, tapi soal suporter yang melakukan pitch invasion yang hal itu tidak diperkenankan,” tegas Erick dalam rilis resmi PSSI, Senin (6/11/2023).
“Apalagi, kita sangat ketat menerapkan standar keamanan di lapangan seusai peristiwa Kanjuruhan," lanjutnya.
Ketua Komite Hukum PSSI, Ahmad Riyadh, juga menjelaskan alasan pitch invasion dilarang. Ini semua mengacu dari pengalaman Tragedi Kanjuruhan tahun lalu.
Riyadh menekankan pentingnya disiplin kode keamanan dan keselamatan merupakan hal yang mutlak. Oleh karena itu, tindakan-tindakan menerobos masuk lapangan sangat dikecam.

"Perlu digarisbawahi bahwa setiap bentuk pitch invasion itu dilarang. Apalagi, saat ini kita sedang melakukan transformasi setelah tragedi Kanjuruhan di mana disiplin soal kode keamanan dan keselamatan adalah hal yang mutlak. Karena itu penonton menyerbu masuk ke lapangan tidak diperkenankan," jelas Riyadh.
"Soal komitmen PSSI pada Palestina, tak perlu diragukan. Seperti yang diucapkan oleh Ketum PSSI, kandang Indonesia adalah kandang Palestina juga!" pungkasnya.
(Djanti Virantika)