Share

Soal Regulasi FIFA tentang Gas Air Mata, PSSI Ternyata Berlakukan Secara Parsial di Setiap Stadion Indonesia

Maulana Yusuf, MNC Portal · Jum'at 07 Oktober 2022 10:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 07 51 2682446 soal-regulasi-fifa-tentang-gas-air-mata-pssi-ternyata-berlakukan-secara-parsial-di-setiap-stadion-indonesia-CERxjQVLom.jpg Soal regulasi FIFA tentang gas air mata, PSSI ternyata berlakukan secara parsial di stadion Indonesia (Foto: ANTARA)

SOAL Regulasi FIFA tentang gas air mata, PSSI ternyata berlakukan secara parsial di setiap stadion Indonesia. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah melakukan kejanggalan terkait pemberlakuan standar FIFA mengenai gas air mata.

Hal tersebut di mana, PSSI menerapkan regulasi tersebut secara parsial. Seperti diketahui, penggunaan gas air mata di dalam stadion dilarang oleh FIFA.

Arema FC

Mengacu Pasal 19 FIFA tentang Stadium Safety and Security Regulation. Dalam pasal tersebut penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion.

“No firearms or “crowd control gas” shall be carried or used,” bunyi kutipan Pasal 19 poin b peraturan federasi sepakbola internasional alias FIFA. Anehnya, PSSI justru menerapkan regulasi FIFA itu hanya secara parsial, tidak secara menyeluruh di semua štadión.

BACA JUGA:Prediksi Line Up Timnas Indonesia U-17 vs Palestina di Kualifikasi Piala Asia U-17 2023: Nabil Asyura dan Kafiatur Rizky Menepi!

Tak heran jika banyak nyawa melayang akibat tembakan gas air mata yang masih digunakan di sejumlah stadion. Yang terbaru adalah pada tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Di mana, peristiwa kelam yang terjadi setelah laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Liga 1 2022-2023 diperkirakan telah menewaskan 125 orang.

Pasalnya, kebanyakan nyawa tersebut lenyap lantaran terkena gas air mata yang kemudian sesak napas, terinjak-injak, sehingga meninggal dunia. Padahal, FIFA sudah dengan tegas melarang penggunaan gas air mata dalam stadion.

Namun, hal itu justru dilanggar oleh aparat keamanan yang mengamankan pada tragedi tersebut. Penerapan regulasi FIFA secara parsial itu dikonfirmasi oleh Ketua Tim Investigasi PSSI, Ahmad Riyadh.

Gas Air Mata

Menurutnya, PSSI memang baru menerapkan larangan gas air mata hanya di beberapa stadion saja. Mereka bahkan baru akan membuat aturan itu secara menyeluruh setelah insiden tragis ini terjadi.

"Secara parsial sudah, cuma yang mendasar setelah ini setelah rakor yang dipimpin oleh Menpora, minta Kapolri dan PSSI untuk duduk bareng. Langsung diimplementasikan malam itu juga, Kapolri lewat Pak Asof, PSSI lewat Ketua Umum untuk meluruskan adopsi aturan FIFA dengan aturan yang nanti semoga menjadi perekap yang berlaku secara nasional oleh kepolisian dalam pengamanan sepakbola," ujar Ahmad Riyadh, dilansir dari Talk show salah satu stasiun TV swasta yang diunggah akun @lerolerler, Jumat (7/10/2022).

"Sebelumnya, parsial tiap daerah bisa bermacam-macam, daerah lain ada yang pake gasnya, ada daerah lain yang kadang-kadang tidak polisinya tidak pake seragam. Bisa dilihat kejadian kemarin antara di Surabaya dan di Sidoarjo waktu Persebaya, Tidak ada aparat satu pun yang mencegah waktu ada kerusuhan, dibiarkan gak ada apa-apa. Nah di Malang, berbeda lagi. Ke depan, akan menjadi satu peraturan yang berlaku seluruh Indonesia," tambahnya.

Menanggapi kejanggalan itu, pengamat sepakbola, Tommy Welly justru membantah pembelaan dari PSSI. Ia menginginkan PSSI bertanggung jawab secara penuh atas tragedi kelam ini, dan menuntut Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

"Yang punya regulasi siapa, dari FIFA diturunkan ke anggotanya, dalam hal ini PSSI. Regulasi tentang stadium safety and security. Disebutkan dilarang itu yang namanya gas air mata. Berarti ada kewajiban PSSI untuk mendeliver aturan ini kepada pihak aparat keamanan yang menjadi bagian dari Panpel. Makannya kenapa saya bilang keukeuh harus ada pertanggungjawaban dari PSSI (menuntut Ketua Umum PSSI mundur)," tegas Tommy Welly.

Akan tetapi, PSSI punya tameng kuat untuk terhindar dari hukuman terkait tragedi Kanjuruhan ini. Hal tersebut tertuang pada Regulasi Keselamatan, dan Keamanan PSSI tahun 2021 pasal 3 ayat 1b. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa Panpel sepenuhnya bertanggung jawab atas segala insiden yang terjadi pada sebuah pertandingan.

"Panpel menjamin, membebaskan, dan melepaskan PSSI (beserta petugasnya) dari segala tuntutan oleh pihak manapun dan menyatakan bahwa Panpel bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kecelakaan, kerusakan, dan kerugian lain yang mungkin timbul berkaitan dengan pelaksanaan peraturan ini," tulis regulasi tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini