Share

Terkait Tragedi Berdarah di Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, Ketum Pemuda Perindo Sampaikan 4 Catatan Penting

Cikal Bintang, MNC Portal · Minggu 02 Oktober 2022 09:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 02 49 2679027 terkait-tragedi-berdarah-di-laga-arema-fc-vs-persebaya-surabaya-ketum-pemuda-perindo-sampaikan-4-catatan-penting-U3EGvr9mM4.jpg Momen kerusuhan terjadi pascalaga Arema FC vs Persebaya Surabaya. (Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto)

JAKARTA – Sepakbola Indonesia tengah berduka karena adanya kerusuhan yang menyebabkan 153 orang meninggal dunia di laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. Melihat hal tersebut, Ketua Umum (Ketum) Pemuda Partai Perindo, Effendy Syahputra menyampaikan empat catatan penting mengenai prosedur pengamanan kerusuhan.

Sebagaimana diketahui, insiden kerusuhan hebat terjadi setelah laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu 1 Oktober 2022 malam WIB. Pada saat itu, Singo Edan -julukan Arema FC- harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 2-3.

Akibatnya, para pendukung yang tidak terima dengan hasil pertandingan menyerbu lapangan Stadion Kanjuruhan. Mereka juga sempat terlibat gesekan dengan petugas keamanan, hingga dikejar menuju tribun.

Kericuhan Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Kemudian gas air mata ditembakkan ke arah tribun, membuat banyak penonton panik dan berdesakkan. Dikabarkan dari situ, banyak korban berjatuhan akibat insiden naas tersebut. Kabarnya, korban jiwa mencapai 153 orang.

Insiden ini menjadi wajah kelam bagi sepakbola Indonesia. Effendy memberikan empat catatan penting untuk menjadi evaluasi atas insiden tersebut. Menurutnya, prosedur pengamanan harus diperbaiki dan dievaluasi.

“Pertama adalah penanganan kerusuhan di stadion. Ini kan kalau dilihat penyebab utamanya adalah gas air mata yang ditembakkan ke tribun penonton,” kata Effendy kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (2/10/2022).

“Sedangkan kita tahu, dalam regulasi FIFA, gas air mata tidak boleh dibawa ke dalam stadion. Ini harus menjadi evaluasi kenapa petugas keamanan menembakkan gas air mata ke arah penonton,” tambahnya.

“Kedua, koordinasi antara panpel dan polisi. Karena gini, seharusnya kan dalam pengamanan panpel sudah tahu bagaimana iklim sepakbola di Indonesia. Seharusnya mereka sudah memprediksi, tetapi pengamanannya kenapa malah gelap mata menembakkan gas air mata,” sambungnya.

Lebih lanjut, Effendy juga menyoroti peran penting federasi untuk memberikan edukasi kepada pihak keamanan. Selain itu, panitia pelaksana (panpel) juga harus transparan soal jumlah tiket yang terjual, agar pengamanan sesuai dengan jumlah penonton.

Kericuhan Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

“Ketiga, yang harus kita soroti adalah dari federasi sendiri mestinya sudah memberikan aturan-aturan atau batasan dalam penanganan kerusuhan di stadion. Itu mesti selalu disosialisasikan,” ujar Effendy.

“Kemudian soal tiket ya, terkadang panpel itu berorientasi mencari keuntungan. Kalau tiket laku 40 ribu, suka dibilang 30 ribu, supaya jumlah pengamanannya hemat. Ini sering terjadi di sepakbola kita,” tambahnya.

“Kita tentu berduka atas tragedi kanjuruhan, tragedi untuk ke sekian kalinya,” tutup Effendy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini