MILAN – Presiden Juventus, Andrea Agnelli, memecat Maurizio Sarri dari jabatannya sebagai pelatih setelah Bianconeri tersingkir di babak 16 besar Liga Champions 2019-2020. Pelatih legendaris AC Milan, Arrigo Sacchi pun menilai bahwa keputusan tersebut sejatinya menunjukkan bahwa Agnelli adalah sosok yang tidak sabaran.
Sarri direkrut Juve pada musim panas 2019 untuk menggantikan Massimilano Allegri. Menurut Sacchi, salah satu alasan Agnelli mempekerjakan Sarri saat itu karena sang presiden ingin melihat Juve bermain dengan lebih banyak kreativitas dan menghibur.
Kendati demikian, harus disayangkan karena dalam penerapannya, Sarri justru tak bisa meramu Juve menjadi tim seperti yang diinginkan Agnelli. Justru sebaliknya, penerapan strategi Sarri membuat Bianconeri tampil tidak konsisten dan menuai sejumlah hasil buruk.
Baca juga: Didapuk Jadi Juru Taktik Juventus, Pirlo Sebenarnya Belum Punya Lencana Kepelatihan

Sacchi menilai kegagalan Sarri tersebut sebenarnya tercipta dari banyak faktor. Salah satunya adalah ketersediaan pemain di skuad Juve. Ia memadang para pemain Bianconeri tak bisa memahami filosofi sepakbola Sarri.
Seandainya manajemen Juve bersedia memenuhi tuntutan Sarri dengan mendatangkan pemain yang diingan sang pelatih, Sacchi yakin Bianconeri akan menampilkan performa hebat. Sayangnya, Agnelli sudah terlanjur gemas dan buru-buru mendepak Sarri.
“Sarri telah menerima 'Mission Impossible' di Juventus. Dia membutuhkan kesabaran dan kolaborasi dari klub, tapi direktur Juventus selalu percaya pada nilai yang berbeda. Moto pemilik adalah: menang merupakan satu-satunya hal yang penting,” tulis Sacchi di La Gazzetta dello Sport sebagaimana dikutip dari Football Italia, Senin (10/8/2020).
“Dengan begitu Anda mengabaikan faktor-faktor seperti keindahan, emosi, hiburan, harmoni, budaya, dan evolusi. Sarri pun mewarisi tim yang puas dan lelah dengan delapan gelar Serie A berturut-turut, dengan usia rata-rata yang terus bertambah, grup dengan banyak solois yang tidak ingin berlari dan berjuang untuk rekan satu timnya,” jelas Sacchi.
“Sangat utopis untuk berpikir Sarri bisa membawa harmoni dan persatuan ke skuad yang sudah tua, tidak terbiasa menjadi kolektif 11 pemain yang bekerja, baik bertahan maupun menyerang. Di Eropa, tim-tim yang mendominasi cenderung kolektif, dengan pendekatan menyerang. Di Italia, mereka cenderung menang dengan sepakbola defensif dan individualistis,” lanjutnya.
“Andrea Agnelli, presiden yang hebat, telah mencoba melepaskan diri dari masa lalu dengan mempekerjakan Sarri. Dia mencoba untuk bergerak menuju masa depan, tetapi sayangnya tidak memiliki kesabaran untuk menyelesaikannya," tuntas Sacchi.
Agnelli kini menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih tim utama Juve. Sejumlah pihak menilai hal ini sebagai perjudian. Karena meski Pirlo sudah diakui sebagai salah satu pesepakbola jenius dalam sejarah, namun ia belum memiliki pengalaman sebagai seorang pelatih.
(Mochamad Rezhatama Herdanu)