Pematangan ide terus dilakukan hingga terbentulah PSSI pada 19 April 1930. Pada waktu itu, PSSI masih diberi nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Nama itu dipilih agar PSSI tidak disangka mau menyaingi NIVB (Nederlands Indische Voetbal Bond). NIVB merupakan organisasi sepakbola milik Belanda yang berdiri lebih dulu pada 1927. NIVB berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) pada 1929.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Soeratin pun terpilih sebagai ketua PSSI. Tugas Soeratin bersama PSSi semakin banyak sehingga ia pun memutuskan untuk mundur dari Sizten en Lausada. Padahal, jabatan dan gaji Soeratin di Sizten en Lausada lumayan tinggi. Akan tetapi, rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap sepakbola membuat Soeratin rela meninggalkan pekerjaannya.
Pada era Soeratin pula Indonesia mampu berlaga di Piala Dunia 1938. Patut disayangkan, para pemain yang dikirim ke Piala Dunia 1938 tidak berada di bawah naungan PSSI, melainkan NIVU yang diakui FIFA. Meski begitu, Indonesia tetap menjadi negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia, walaupun dengan nama Hindia Belanda.
Masa jabatan Soeratin sebagai ketua PSSI selesai pada 1940 dan digantikan Artono Martosoewignyo. Setelah menyelesaikan tugasnya di PSSI dengan baik, Soeratin tidak berhenti membantu pergerakan nasional melawan penjajahan. Masa tua Soeratin tidak bergelimang harta karena keputusannya berjuang untuk Indonesia. Soeratin meninggal dunia pada 1 Desember 1959 di usia 60 tahun dengan kondisi tidak berkecukupan.
(Ramdani Bur)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.