CRISTIANO Ronaldo sempat menjalani tahun pertama tidak mengenakkan di akademi Sporting Lisbon. Karena memiliki logat yang berbeda dengan warga dataran Portugal seperti Kota Lisbon, Ronaldo remaja sempat mendapat olok-olok dari rekan-rekannya di tim junior Sporting Lisbon.
Namun, seiring berjalannya waktu, berkat dorongan motivasi dari sang ibu Maria Dolores, Ronaldo tetap bertahan di akademi junior Sporting dan terus mengalami peningkatan performa. Alhasil, Ronaldo dipercaya oleh rekan-rekannya untuk dijadikan andalan di timnya.
Akan tetapi, terlalu fokus menjadi pemain sepakbola profesional, Ronaldo kerap meninggalkan tugas-tugas sekolahnya. Hal itulah yang tidak disukai tim kepelatihan akademi Sporting Lisbon.
Pada suatu ketika, Sporting mendapat kesempatan untuk menjalani pertandingan uji coba ke Maritimo, sebuah klub yang berada di Kepulauan Madeira, tempat di mana Ronaldo lahir. Mendengar timnya ingin tampil di Madeira, Ronaldo begitu antusias dan berharap dapat disertakan tim pelatih ke pertandingan tersebut.
Sayangnya, harapan tidak sesuai kenyataan. Karena nilai akademis Ronaldo sangat buruk dan kerap melanggar peraturan, Ronaldo tidak disertakan ke markas Maritimo. Ronaldo remaja pun sedih mendengar kabar tersebut.
“Saya melihat daftar pemain yang diberangkatkan dan nama saya tidak tercantum di dalamnya. Empat kali saya memastikannya dan tetap tidak tercantum di sana. Saya mulai menangis dan dengan pikiran kalut saya pun melangkahkan kaki saya ke pusat pelatihan,” kata Ronaldo mengutip dari buku The Obsession For Perfection karangan Luca Caioli.
Ronaldo memang kesal dengan keputusan yang dibuat tim pelatih. Namun, Ronaldo mengaku mengambil hikmah atas kejadian tersebut.
Bersambung…..
(Ramdani Bur)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.