PEMAIN Keturunan Indonesia, Tijjani Reijnders resmi meninggalkan Manchester City untuk bergabung dengan klub Arab Saudi, Al-Qadsiah. Kepindahan gelandang asal Belanda ini memicu cerita menarik di balik layar di bursa transfer musim panas 2026.
Sebelum memutuskan hijrah ke Timur Tengah, gelandang berusia 28 tahun ini ternyata menjadi rebutan banyak klub top Eropa. Sang ayah, Martin Reijnders, membeberkan ada lima klub yang sempat berusaha keras untuk mendapatkan tanda tangan putranya.
Klub-klub tersebut meliputi Newcastle United, Nottingham Forest, Atletico Madrid, Juventus, hingga Galatasaray. Masing-masing peminat harus gigit jari karena berbagai kendala negosiasi dengan pihak Manchester City.
Menurut Martin, Manchester City sebenarnya tidak berniat melepas Reijnders begitu saja kecuali banderol harga yang diminta terpenuhi. Klub asuhan Enzo Maresca tersebut mematok angka yang tegas dan tidak mau turun harga demi melepas sang pemain.
Atletico Madrid dikabarkan sangat berminat namun terkendala masalah finansial untuk merampungkan transfer permanen. Sementara itu, Juventus dan raksasa Turki Galatasaray hanya mengajukan proposal peminjaman yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pihak City.
Upaya dari klub Liga Inggris seperti Nottingham Forest dan Newcastle United juga berujung pada jalan buntu. Kedua klub tersebut gagal mencapai kata sepakat mengenai nilai transfer dengan manajemen The Citizens.
“Mereka (manajemen Man City) mengatakan: jika Anda menginginkan transfer, itu hanya akan terjadi dengan biaya yang kami setujui. Tidak kurang dari itu.Atletico Madrid tertarik tetapi tidak dapat mencapai kesepakatan finansial,” jelas Martin Reijnders, dikutip dari Sportsmole, Kamis (27/8/2026).
“Juventus dan Galatasaray hanya menginginkan kesepakatan pinjaman. Nottingham Forest tidak dapat mencapai kesepakatan dengan City, begitu pula Newcastle United,” tambahnya.
Pada akhirnya, Al-Qadsiah sukses mengamankan jasa Reijnders setelah Manchester City menerima mahar sebesar 52 juta pounds atau sekira Rp1,2 triliun. Penjualan ini sekaligus membantu rencana finansial klub untuk mendatangkan talenta muda Lille, Ayyoub Bouaddi.
Martin tidak menampik faktor finansial yang fantastis berperan besar dalam kepindahan putranya. Namun, ia menegaskan bahwa uang bukanlah satu-satunya motivasi utama di balik keputusan tersebut.
"Uang hanya menjadi faktor penentu ketika dihadapkan pada dua pilihan olahraga: bertahan di Manchester City dengan risiko sering di bangku cadangan, atau bermain reguler dengan menikmati peran yang pas di Al-Qadsiah," tutup sang ayah.
(Rivan Nasri Rachman)