PORTUGAL datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban sekaligus harapan terbesar dalam sejarah sepak bola mereka. Target membawa pulang trofi yang selama ini selalu lepas dari genggaman, dan melakukannya demi sang legenda yang akan segera pensiun.
Sebagai salah satu tim yang menyedot perhatian dunia, Portugal, bukan semata karena kualitas skuad mereka yang bertabur bintang, tetapi ada satu sosok bernomor punggung 7 yang menjadikan turnamen ini sebagai babak penutup kisah sepak bola terpanjang atau the last dance CR7.
Dalam sejarah Piala Dunia, Portugal tergolong tim yang cukup konsisten namun belum pernah menyentuh puncak. Mereka pertama kali tampil di Piala Dunia pada 1966 dan langsung meraih hasil memukau dengan finis di posisi ketiga.
Pencapaian itu kemudian baru terulang pada 2006, saat mereka kembali meraih tempat ketiga di bawah asuhan Luiz Felipe Scolari dengan sosok Ronaldo muda sebagai motor utama serangan.
Portugal kian matang, sukses meraih gelar Piala Eropa 2016 dan dua trofi UEFA Nations League (2019 dan 2025) menegaskan status mereka sebagai kekuatan sepak bola papan atas Eropa.
Sosok di balik kebangkitan Portugal adalah Roberto Martínez, pelatih asal Spanyol berusia 52 tahun yang mengambil alih kursi pelatih kepala sejak 2023. Sebelumnya, Martínez dikenal luas saat menukangi Belgia — membawa Les Diables Rouges mencapai posisi terbaik mereka di peringkat FIFA — sebelum kemudian dipercaya membesut Portugal.