KABAR baik menghampiri para pemain Timnas Indonesia yang berkarier di Liga Belanda. Kabarnya, drama paspor sudah menemui titik terang sehingga mereka bisa segera bermain lagi.
Drama paspor menjadi isu terhangat di Liga Belanda. Drama itu bermula dari protes NAC Breda ke Federasi Sepakbola Belanda (KNVB) usai kalah telak 0-6 dari Go Ahead Eagles dalam laga lanjutan Eredivisie 2025-2026.
NAC Breda mengajukan pertandingan ulang karena Go Ahead Eagles memainkan Dean James, pemain yang disinyalir masih memakai status pemain Belanda atau Uni Eropa dalam kontraknya bersama Go Ahead Eagles pada musim 2025-2026. Status pemain berlabel Timnas Indonesia dianggap ilegal alias tidak sah.
Akibat masalah itu, KNVB bersama pihak berwenang lain melakukan investigasi. Ditemukan ada 25 pemain yang diduga bermasalah, termasuk empat pemain Timnas Indonesia. Selain Dean James ada juga Justin Hubner (Fortuna Sittard), Nathan Tjoe-A-On (Willem II Tilburg), dan Tim Geypens (FC Emmen).
KNVB bersama Federasi Organisasi Sepak Bola Profesional (FBO) lalu menyarankan klub tidak mengizinkan para pemain yang bersangkutan berlatih atau bermain. Saran itu dipenuhi sejumlah klub sehingga Dean James dan yang lainnya untuk saat ini ditepikan klubnya dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti sesi latihan.
Kendati begitu, jurnalis ESPN, Cristian Willaert mengatakan drama paspor mulai menemui titik terang. Ia meyakini Eredivisie CV (ECV) sudah dapat solusi yang memungkinkan para pemain bermasalah tersebut dapat bermain lagi.
“Ada harapan besar bahwa para pemain yang terkena dampak drama passportgate akan memenuhi syarat untuk bermain lagi dalam beberapa minggu ke depan, tanpa harus mematuhi aturan untuk pemain non-Uni Eropa. Cristian Willaert mengatakan hal ini di Voetbalpraat, setelah berbicara dengan orang dalam,” tulis laporan ESPN NL, Jumat (3/4/2026).
Meski masih belum pasti, tapi Willaert mengatakan solusi sedang dipertimbangkan. Di mana para pemain yang dibesarkan di Belanda menerima izin tinggal tetap. Nantinya mereka tidak memerlukan izin kerja atau, tetapi masih dapat terus bermain untuk negara-negara seperti Indonesia atau Suriname.
“ECV memimpin dalam mencari solusi dan bekerja sama erat dengan lembaga pemerintah, termasuk Dinas Imigrasi dan Naturalisasi (IND), dalam hal ini. Ada harapan besar bahwa menemukan solusi yang tepat tidak akan memakan waktu berbulan-bulan, tetapi belum ada yang pasti,” tegas Willaert.
Masih dalam laporan yang sama, Willaert juga mengaku mendengar cerita tentang para pemain yang dibujuk dengan alasan tidak tepat untuk memilih karier internasional yang berbeda. Jika benar demikian, ia yakin hal itu akan dipertimbangkan oleh hakim apabila persoalan masuk fase gugatan.
“Perwakilan yang membujuk mereka untuk melakukan itu memberitahu mereka bahwa mereka hanya perlu segera mengajukan paspor Belanda. Sehingga mereka dapat bepergian dengan bebas di Eropa selama sepuluh tahun ke depan dan tidak akan memiliki masalah dengan izin kerja,” jelas Willaert.
“Hukum Belanda juga selalu memperhatikan kewajaran dan keadilan. Jika aturan-aturan itu benar-benar diterapkan secara ketat, para pemain, bisa dibilang, berakhir dengan upah minimum di divisi kedua sepak bola Belgia,” tambahnya.
Willaert mengkritik langkah FBO sebelumnya kepada klub. Menurutnya, alih-alih menyarankan tidak mengizinkan pemain tampil, FBO seharusnya mendukung para pemain sambil berkoordinasi dengan KNVB dan ECV.
“Anda bisa saja mengatakan bahwa Anda mendukung pernyataan kelayakan yang dikeluarkan di awal musim. Saya terkejut mereka tidak melakukan itu,” tutup Willaert.
(Ramdani Bur)