LONDON - Roman Abramovich telah mengonfirmasi akan menjual Chelsea imbas invasi negaranya, Rusia, ke Ukraina. Abramovich pun berharap bisa mengunjungi Stamford Bridge untuk terakhir kalinya.
Abramovich bukan tanpa sebab menjual klub yang telah dimilikinya sejak 2003 silam itu. Keputusan itu sudah dipikirkan dengan matang demi melindungi para para penggemar, karyawan, serta sponsor, dan Chelsea itu sendiri.
"Saya telah mengambil keputusan untuk menjual klub, karena saya yakin ini demi kepentingan terbaik klub," kata Abramovich dalam pernyataan resminya, Kamis (3/3/2022).
Menilik beberapa waktu lalu, Abramovich sejatinya sudah kesulitan untuk menonton Chelsea di Stamford Bridge. Selama tiga tahun terakhir, ia tak terlihat menonton The Blues dari bangku kehormatannya.
Ternyata, pria berusia 55 tahun itu memang memiliki masalah seputar visa wirausaha pada 2018. Setelah itu, pemilik kekayaan bersih senilai 13,1 miliar dolar (Rp186,9 triliun) itu tidak pernah lagi terlihat di London.
Abramovich lebih sering menonton Chelsea jika melakukan laga tandang. Jika memang terpaksa ke Stamford Bridge, ia hanya datang jika Chelsea melakukan partai final semata.
Dan sebagai bentuk perpisahannya, pengusaha kaya raya itu sangat berharap bisa menonton Mason Mount dan kawan-kawan di Stamford Bridge untuk terakhir kalinya.
"Saya harap saya dapat mengunjungi Stamford Bridge untuk terakhir kalinya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Anda semua secara langsung," kata Abramovich.
"Merupakan hak istimewa seumur hidup untuk menjadi bagian dari Chelsea dan saya bangga dengan semua pencapaian bersama kami. Chelsea Football Club dan pendukungnya akan selalu ada di hati saya," sambungnya dengan haru.
Selama masa kepemimpinan Abramovich, Chelsea sukses besar. The Blues meraih 19 trofi bersama Abramovich. Jadi, Chelsea akan memasuki era baru sepeninggal Abramovich.
(Andika Pratama)