"Dia tidur, dia bersin, dia makan, dia bersendawa, tetapi tidak bangun dari tempat tidur. Dia terbaring di tempat tidur dan masih sangat bergantung pada kami. Pada hari-hari baiknya, ada bentuk komunikasi, misalnya, konfirmasi dengan alisnya atau senyuman. Tetapi Anda perhatikan bahwa ia tidak bisa bertahan selama itu,” jelas Abderrahim.
"Kami berbicara dengannya seperti dia tidak sakit. Kami membawanya ke percakapan kami dan kami menonton sepakbola bersamanya di ruang tamu, misalnya. Lalu dia menonton. Kamu memperhatikan bahwa dia sangat menyukainya. Dia sering menunjukkan emosi. Terkadang dia emosional, tetapi sering juga ada senyum. Itu baik untuk kami. Itu membuatmu sangat menghargai senyum,” ungkapnya.
(Ramdani Bur)