Dengan kata lain, sang ayah harus bekerja mati-matian untuk bisa menghidupi keluarganya. Itulah mengapa, sang ibu sangat menginginkan Maradona menjadi seorang akuntan. Kerena pekerjaan tersebut dipandang lebih bisa menghasilkan uang ketimbang menjadi pesepakbola.
Maradona pertama kali bersentuhan dengan sepakbola saat usianya tiga tahun. Kala itu ia diberi hadiah ulang tahun berupa bola sepak dari sepupunya, Beto Zarate. Saking sukanya dengan bola, Maradona bahkan setiap malam tidur sambil memeluk bola selama enam bulan lamanya. Pasalnya, dia khawatir kalau bola kesayangannya itu dicuri. Kendati demikian, bola tersebut terkadang disita oleh ibunya.
Kendati begitu, seiring bertambahnya usia, keinginan Maradona untuk menjadi seorang pesepakbola semakin menguat. Maradona pada akhirnya sadar kalau panggilan jiwanya adalah menjadi pesepakbola, bukan akuntan.
Layaknya gayung bersambut, keinginan Maradona untuk menjadi pesepakbola justru mendapat dukungan besar dari sang ayah. Meski begitu, sang ibu tetap menyayangi Maradona dan memberinya dukungan juga.
(Djanti Virantika)