LIGA Champions merupakan kompetisi yang tak pernah lepas dari kejutan. Tak ada yang menyangka klub sekelas FC Porto keluar sebagai kampiun Liga Champions 2003-2004. Dalam perjalanannya, klub asuhan Jose Mourinho itu menyingkirkan Manchester United dan Deportivo La Coruna yang di babak sebelumnya mengalahkan juara bertahan, AC Milan.
Selain kejutan klub-klub kuda hitam yang keluar menjadi kampiun, kejutan lain ialah keberhasilan sebuah tim melakukan comeback. Comeback yang dimaksud ialah, klub yang kalah dengan defisit dua gol atau lebih, namun dapat membalikkan keadaan di pertemuan kedua hingga akhirnya lolos ke babak selanjutnya.
Berikut 11 comeback paling dramatis di Liga Champions:
11. Perempatfinal Liga Champions 1999-2000
(Foto: AFP/Philippe Desmazes)
Leg I = Chelsea vs Barcelona 3-1
Leg II = Barcelona vs Chelsea 5-1
Chelsea menang 3-1 pada leg I yang berlangsung di Stamford Bridge. Hasil itu membuat Tore Andre Flo dan kawan-kawan berada di atas angin. Akan tetapi pada leg II yang digelar di Estadio Camp Nou, Chelsea takluk 1-5. Alhasil, Barcelona melenggang ke semifinal dengan keunggulan agregat 6-4.
10. Perempatfinal Liga Champions 2003-2004
Leg I = Real Madrid vs AS Monaco 4-2
Leg II = AS Monaco vs Real Madrid 3-1
Monaco racikan Didier Deschamps membuat kejutan dengan menyingkirkan klub tersukses di Liga Champions, Real Madrid. Sebenarnya pada leg I yang dilangsungkan di Santiago Bernabeu, Monaco kalah 2-4. Selanjutnya mereka bangkit pada pertemuan kedua di kandang sendiri, Stade Louis II. Monaco menang 3-1 lewat brace (dua gol) Ludovic Giuly dan satu lagi dari Fernando Morientes . Meski agregat sama kuat 5-5, namun Monaco lolos ke semifinal karena unggul agresivitas gol tandang.
9. Perempatfinal Liga Champions 2003-2004
(Foto: AFP/Iago Lopez)
Leg I = AC Milan vs Deportivo La Coruna 4-1
Leg II = Deportivo La Coruna vs AC Milan 4-0
Milan selangkah lagi lolos ke semifinal dan berpotensi mempertahankan gelar yang mereka raih semusim sebelumnya. Sebab pada leg I perempatfinal, Rossoneri –julukan Milan– mengalahkan Deportivo 4-1. Akan tetapi, keunggulan tersebut tak dapat dijaga pada pertemuan kedua. Klub asuhan Carlo Ancelotti itu takluk 0-4 dari Deportivo yang mengandalkan Juan Carlos Valeron sebagai otak serangan.
8. 16 Besar Liga Champions 2011-2012
Leg I = Napoli vs Chelsea 3-1
Leg II = Chelsea vs Napoli 4-1
Napoli menundukkan Chelsea 3-1 pada pertemuan pertama yang digelar di San Paolo. Sementara di sisi lain akibat kekalahan itu, manajemen Chelsea pun memecat pelatih Andre Villas Boas. Kemudian, Chelsea menunjuk Roberto Di Matteo sebagai pelatih. Hasilnya luar biasa, Chelsea bangkit di leg II dengan mengalahkan Napoli 4-1, mereka pun lolos ke perempatfinal dengan agregat 5-4. Bahkan di akhir musim, Chelsea meraih trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah setelah mengalahkan tuan rumah Bayern Munich.
7.16 Besar Liga Champions 2012-2013.
(Foto: REUTERS/Alberto Lingria)
Leg I = AC Milan vs Barcelona 2-0
Leg II = Barcelona vs AC Milan 4-0
Milan membuat kejutan dengan mengalahkan Barcelona 2-0 pada leg I. Akibat kekalahan itu, banyak yang memprediksi Barcelona tak mampu bangkit. Sebab diprediksi, Milan akan tampil bertahan di pertemuan kedua. Akan tetapi, Barcelona membalikkan semua prediksi untuk bangkit dan mengalahkan Milan dengan skor 4-0. Messi dan kawan-kawan pun lolos ke perempatfinal berkat keunggulan 4-2.
6. 16 Besar Liga Champions 2013-2014
Leg I = Olympiakos vs Manchester United 2-0
Leg II = Manchester United vs Olympiakos 3-0
Man United tak bisa berbuat banyak saat bertamu ke markas Olympiakos setelah tunduk 0-2. Meski begitu, Man United bangkit di laga kedua yang berlangsung di kandang sendiri. Setan Merah yang saat itu ditangani David Moyes bermain atraktif dengan menang 3-0. Robin van Persie menjadi bintang kemenangan Man United lewat hattrick yang dicetak.
5. Perempatfinal Liga Champions 2013-2014
(Foto: Franck Fife/AFP)
Leg I = PSG vs Chelsea 3-1
Leg II = Chelsea vs PSG 2-0
PSG berada di atas angin setelah menang 3-1 pada leg I. Akan tetapi, keunggulan tersebut tak dapat dijaga pada pertemuan kedua yang digelar di markas Chelsea, Stamford Bridge. Chelsea menang 2-0 lewat gol dari Andre Schurrle dan Demba Ba. Agregat memang sama kuat 3-3, namun Chelsea lolos ke semifinal karena unggul agresivitas gol tandang.
4. Perempatfinal Liga Champions 2014-2015
Leg I = FC Porto vs Bayern Munich 3-1
Leg II = Bayern Munich vs FC Porto 6-1
Porto membuat kejutan dengan mengalahkan Bayern 3-1 di kandang sendiri. Bayern yang tak ingin tersingkir dari klub yang memiliki level di bawah mereka, bangkit pada pertemuan kedua. Alhasil, Die Roten –julukan Bayern– pun menang 6-1 dan lolos ke semifinal dengan agregat 7-4.
3. Perempatfinal Liga Champions 2015-2016
Leg I = VfL Wolfsburg vs Real Madrid 2-0
Leg II = Real Madrid vs VfL Wolfsburg 3-0
Madrid hampir gagal lolos ke semifinal setalah kalah 0-2 pada leg I. Beruntung pada leg II, Los Blancos memiliki Cristiano Ronaldo. Pesepakbola yang kini berusia 33 tahun itu memborong semua gol Madrid di laga kedua. Madrid menang 3-0 dan melaju ke semifinal setelah unggul agregat 3-2. Di akhir musim juga, Madrid memenangi kompetisi setelah menang adu penalti atas Atletico Madrid.
2. 16 Besar Liga Champions 2016-2017
(Foto: AFP/Lluis Gene)
Leg I = PSG vs Barcelona 4-0
Leg II = Barcelona 6-1 PSG
Jadi comeback paling luar biasa yang terjadi di Liga Champions. Hal itu karena Barcelona sanggup mengejar agregat meski pada leg I takluk 0-4. Pada leg II, Barcelona sebenarnya hanya unggul 3-1 hingga menit 87. Jika skor tersebut bertahan hingga akhir, maka Barcelona akan tersingkir. Akan tetapi, Neymar menjadi bintang dengan mencetak dua gol dan satu assist di sisa pertandingan, sehingga Barcelona pun menang 6-1.
1. Perempatfinal Liga Champions 2017-2018
(Foto: REUTERS/Alessandro Bianchi)
Leg I = Barcelona vs AS Roma 4-1
Leg II = AS Roma vs Barcelona 3-0
Setelah melakukan comeback luar biasa musim lalu, Barcelona justru merasakan nasib tragis musim ini. Barcelona sudah unggul 4-1 atas Roma pada leg I yang digelar di Camp Nou. Akan tetapi, klub asuhan Ernesto Valverde takluk 0-3 pada pertemuan kedua. Meski agregat sama kuat 4-4, Barcelona tersingkir karena kalah agresivitas gol tandang dari Roma.