PADA medio April 1997, Cristiano Ronaldo menjalani seleksi di Kota Lisbon bersama Sporting. Untuk menjalani seleksi itu, Ronaldo harus meninggalkan keluarga dan teman-teman masa kecilnya. Berat meninggalkan keluarga besarnya, Ronaldo yang saat itu berusia 12 tahun sempat tak bisa tidur, satu hari sebelum keberangkatan.
Selain itu untuk pertama kalinya, Ronaldo merasakan sensasi naik pesawat terbang. Saat itu ia ditemani Fernao Sousa yang merupakan ayah baptisnya ke Lisbon. Sejatinya, Ronaldo ingin membela Benfica yang notabene klub favoritnya. Selain itu As Aguias –julukan Benfica– juga merupakan klub idola dari sang ayah, Jose Dinis Aveiro.
Akan tetapi, Mario Dolores (ibu Ronaldo) merupakan pencinta setia Sporting Lisbon. Dolores selalu menginginkan sang anak mengikuti jejak Luis Figo, pesepakbola jebolan akademi Sporting yang membawa Timnas Portugal U-20 juara Piala Dunia U-20 pada 1989.
Setibanya tiba di Kota Lisbon, Ronaldo langsung menuju ke tempat latihan tim junior Sporting. Di situ, Ronaldo bertemu dengan dua pelatih tim junior Sporting, Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva. Sekilas, kedua pelatih itu meragukan Ronaldo. Hal itu karena fisik Ronaldo yang sangat kurus. Namun, ketika Ronaldo mulai menyentuh bola, Cardoso dan Silva tak bisa menyimpan kekagumannya.
“Saya berpaling ke arah Osvaldo dan berkata, ‘anak ini berbeda, ia benar-benar istimewa. Dan bukan hanya kami yang berpikir demikian. Di akhir sesi pelatihan, bocah-bocah lain mengerumuninya. Mereka tahu bahwa Ronaldo yang terbaik,” kata Cardoso mengutip dari buku The Obssesion For Perfection karangan Luca Caioli.
Sehari berselang, tim pelatih Sporting ingin kembali melihat aksi Ronaldo. Kali ini, Direktur Akademi Pemain Muda Sporting, Aurelio Pereira, juga ikut hadir.
“Ronaldo sangat berbakat, bisa bermain dengan kedua kakinya. Setiap kali ia bermain, bola itu seperti bagian tubuhnya sendiri. Namun, yang menarik perhatian saya ialah karakternya yang benar-benar terpancar. Ia sangat berani dan tak ada yang bisa mematahkan mentalnya,” kata Pereira.
“Ia tak kenal rasa takut, tak gentar menghadapi pemain yang lebih senior. Ia memiliki kualitas kepemimpinan yang hanya dimiliki oleh para juara. Satu di antara berjuta. Ketika mereka masuk ke ruang ganti, semua anak berkerumun dan mengajakya bicara. Ia punya karisma itu,” lanjut Pereira.
Akhirnya pada 17 April 1997, Paulo Cardoso dan Osvaldo menyatakan bahwa Ronaldo lolos tes yang dilakukan. Meski sudah lolos tes, masih ada yang harus diselesaikan antara Sporting dan Nacional (klub Ronaldo sebelumnya). Apakah itu?
Bersambung...
(Ramdani Bur)