JAKARTA - Ketua Panpel Kualifikasi AFC Cup U-23, H. Azwan Karim berharap suporter Timnas Garuda Muda tidak membuat aksi yang dapat merugikan Indonesia sebagai tuan rumah. Dia berharap penyalaan flare atau kembang api dan sebagainya tidak ada lagi di lapangan.
Merah-Putih memiliki catatan kurang baik akan aksi suporter di stadion. Hal ini sempat membuat Indonesia diberi sanksi tanpa penonton pada laga kualifikasi Pra-Piala Asia kontra China pada 15 Oktober 2013. Hukuman ini menjadi akumulasi usai penonton yang tidak tertib saat mendukung tim kebanggaan mereka secara langsung di stadion.
Sayang, pada laga perdana kualifikasi Grup H Pra-Piala Asia U-23, pada Jumat 27 Maret 2015, penonton belum menjejali stadion Utama Gelora Bung Karno. Pihak pelaksana pun berharap di dua laga ke depan, penonton dapat meramaikan GBK tanpa melakukan aksi anarkis.
“Penggunaan flare, kembang api atau mercon sekalipun selain bisa membuat tim yang berlaga didenda, bukan tak mungkin akan dijatuhi hukuman tanpa penonton. Kalau itu yang terjadi mau bagaimana? Jadi saya harapkan kepada penonton yang datang ke stadion tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan Timnas,” kata H Azwan Karim, Sabtu (28/3/2015).
“Jangan sampai Indonesia kena sanksi minimal denda, atau yang lebih parah laga tanpa disaksikan oleh penonton. Semua yang akan rugi. Aturan AFC ini lebih ketat. Kami harapkan dukungan yang positif, bukan dukungan yang malah membuat Tim jadi rugi. Sayang kan kalau perjuangan pemain di lapangan jadi sia-sia karena masalah yang seharusnya bisa dicegah,” terangnya
“Mungkin karena kami menyampaikan penjelasan apa saja usaha yang sudah kami lakukan saat laga digelar. Seperti kampanye no flare, no fire, no banned, serta saat kejadian langsung mengantisipasi agar penonton segera mematikan flare itu. Semuanya konkret dilakukan," tuntasnya.
(Rintani Mundari)