JAKARTA - Sepakbola modern tidak lagi mengharuskan penyerang selalu mencetak gol. Mencetak gol memang penting dan menyenangkan, tapi kolektivitas tim saat ini menjadi prioritas dalam permainan. Lihat bagaimana Timnas Spanyol dan Jerman mempraktekan dengan bagus sistem 'false nine' dalam permainannya, yaitu pemain di lini depan tidak selalu berfungsi sebagai penyerang yang diberikan umpan matang lalu mencetak gol, tapi lebih banyak mengecoh pertahanan lawan agar terpecah konsentrasinya.
Spanyol, yang memulainya saat Euro 2012, lebih sering menempatkan pemain dengan karakter gelandang di depan sebagai fungsi 'false nine', dengan tujuan agar membingungkan bek lawan dan memberi kesempatan rekannya dari lini kedua masuk membuat gol.
Apa yang dilakukan Spanyol dan Jerman ditiru oleh Timnas U-19, meski tidak identik. Indra Sjafri, pelatih Garuda Jaya, mencoba mengoptimalkan skill dan kecepatan pemainnya terutama di lini tengah untuk juga bisa membuat gol. Makanya karakter penyerang tunggal dalam skenario permainan yang dibuat Indra Sjafri, tidak diberi kewajiban mencetak gol. Indra masih memasang pemain dengan karakter striker, hanya saja penyerang itu akan lebih banyak bergerak, membuka ruang dengan cara memancing satu atau dua bek lawan meninggalkan posnya. Ruang kosong seperti itulah yang diharapkan bisa dimanfaatkan untuk membuat gol.
Sosok Muchlis Hadi Ning Syaifulloh dinilai cocok dengan skema Indra Sjafri. Muchlis bukan tipe striker seperti Widodo C. Putro yang rajin turun ke bawah untuk mensuplai duetnya kala itu, Kurniawan Dwi Yulianto.
Muchlis lebih berkarakter tenang dalam bergerak dan oportunis dalam menunggu umpan. Tapi oleh Indra Sjafri, pemain kelahiran 26 Oktober 1996 itu diubah karakternya menjadi lebih aktif dalam memancing pergerakan bek lawan. Muchlis diminta untuk jeli melihat pergerakan rekannya lalu memutuskan kapan ia harus "menarik" bek lawan. Pemuda asal Mojokerto itu juga dipoles untuk bisa melakukan akselerasi dengan bola. Tujuannya agar bisa melewati satu sampai dua pemain lawan.
Ada satu kelemahan Muchlis, karena tipenya yang terlihat santai, ia seperti kurang gigih dalam bermain. Tapi dengan usianya yang masih muda, anak pasangan Samsul Hadi dan Sulifah ini, bisa terus berkembang menjadi penyerang berbakat yang tidak hanya piawai membuat gol, tapi juga cerdik membuka ruang di pertahanan lawan.
(Fajar Anugrah Putra)