BARCELONA – Hari ini, Sabtu, 26 April –waktu Indonesia, menjadi hari berduka bagi klub raksasa La Liga, Barcelona. Mantan pelatih mereka, Tito Vilanova menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan kanker sejak 2011 lalu.
Untuk menghormati mendiang Tito, markas Barcelona, Camp Nou menurunkan bendera setengah tiang sebagai dimbol penghormatan untuk sang mantan entrenador. Tito –begitu dia disapa, bukanlah orang baru untuk klub asal Catalan ini. Sejak usia dini, Tito sudah mengenyam pendidikan di tim yunior El Barca, tepatnya di tahun 1984 hingga 1988. Levelnya naik ke tim Barcelona B di tahun berikutnya.
Selama menjadi pemain, Tito bermain untuk tujuh tim berbeda. Figueres, Celta Vigo, Badajoz, Real Mallorca, Lleida, Elche, dan Gramenet adalah klub-klub yang pernah diperkuat Tito selama rentang waktu 1990 hingga 2001.
Berposisi sebagai pemain tengah, Tito mengemas total 26 gol dari 305 pertandingan yang dilakoninya. Pensiun sebagai pemain di tahun 2001. Baru lah di tahun 2003, dia memulai debutnya sebagai pelatih di tim Palafrugell.
Rasa cintanya kepada Barcelona, membawanya kembali di tahun 2007 dengan menangani tim Barcelona B sebagai asisten pelatih selama satu musim. Di tahun 2008, dirinya turut berperan dalam kesuksesan Tim Catalan.
Di tahun tersebut, dia berada di belakang pelatih Barcelona saat itu, Josep Guardiola. Hingga tahun 2012. Selepas rezim Pep –sapaan Guardiola, Tito ditunjuk untuk menggantikan Pep sebagai pelatih kepala Barcelona.
Semusim membesut Barcelona, pria kelahiran 17 September 1968 ini langsung membawa Lionel Messi Cs menjadi juara La Liga, sekaligus sebagai tim yang mampu mencapai 100 poin dalam satu musim –saat itu Real Madrid berada di posisi dua dengan poin 85.
Perjuangan Tito melawan kanker yang dideritanya, dimulai pada November 2011. Sesaat sebelum berkangkat ke Milan untuk memainkan laga Liga Champions, Barca mengumumkan bahwa Tito Vilanova, yang saat itu menjadi asisten pelatih Pep Guardiola, mengidap kanker dan harus segera dioperasi. Ia kemudian menjalani operasi di Rumah Sakit Vall d’Hebron dan pulang enam hari kemudian untuk menjalani proses pemulihan di rumah.
Setelah periode pemulihan, Vilanova muncul kembali dan bergabung dengan tim kepelatihan Guardiola. Ia duduk kembali di bench pada 11 Desember dalam laga La Liga lawan Real Madrid di Santiago Bernabeu.
12 Mei 2012, meski belum sepenuhnya bergabung dan menjalankan tugasnya sebagai asisten Guardiola, Dr. Ricard Pruna mengumumkan Vilanova telah pulih dan bebas dari penyakitnya. Ia tak menghadiri beberapa laga resmi Barca, tapi pada 12 Mei, dokter klub mengumumkan dirinya telah pulih sepenuhnya.
Akhir 2012, Barca mengumumkan pembatalan acara makan siang jelang Natal bagi media dan Presiden Sandro Rosell. Pembatalan ini dilakukan karena sakit Vilanova kambuh dan harus kembali dioperasi. 20 Desember, Vilanova menjelani operasi kedua pada kelenjar ludahnya.
Awal Januari 2013, Vilanova meninggalkan Barcelona sementara untuk berangkat ke New York untuk mendapatkan second opinion di Rumah Sakit Sloan-Kettering Memorial. Di Amerika Serikat, dia menetap di sana untuk menjalani kemoterapi dan radioterapi di Rumah Sakit yang sama.
Baru lah di akhir Februari presiden Barcelona saat itu, Sandro Rossel menyusul Tito ke Amerika untuk menjenguk sekaligus membicarakan masa depannya di klub. Ketika Maret datang, tanggung jawan Tito untuk Barcelona tak sepenuhnya bisa ia lepaskan, karena Vilanova masih tetap memberikan pengarahan kepada para pemain lewat telepon.
Masa depan Vilanova sempat dipertegas oleh Direktur olahraga Barca, Andoni Zubizarreta yang menegaskan Vilanova akan tetap menjadi pelatih di musim 2013/14, sebulan berselang. 26 Maret, Vilanova kembali ke Barcelona ditemani Jordi Roura dan Aureli Altimira. Pihak klub mengumumkan pelatih itu akan kembali mengikuti dinamika tim secara lambat laun.
Akhir April, Vilanova tampil kembali di muka umum dan menggelar konferensi persnya yang pertama sejak dia pulang dari New York. Di kesempatan itu, dia menyatakan merasa cukup kuat untuk melanjutkan tugasnya hingga musim 2013/14.
Di bulan Mei, kesehatannya kembali menurun. Tito harus kembali terbang ke New York untuk berobat dan menjalani pemeriksaan medis yang biasa dijalani setiap tiga bulan sekali untuk para pasien kanker kelenjar ludah. Saat itu, manajemen klub mulai mengkhawatirkan kondisi Tito dan mulai mencari-cari pelatih baru.
Juli, kepastian didapat. Barcelona secara resmi mengumumkan mundurnya Tito dari kursi kepelatihan Barcelona. Baru lah di bulan ini, kondisinya dikabarkan kembali menurun dan pria berusia 45 tahun ini dibawa ke ruang gawat darurat karena kesehatannya memburuk sejak minggu sebelumnya. Dengan segala upaya, akhirnya Tito menghembuskan napas terakhirnya tadi malam –waktu Indonesia.
Follow @bola_okezone untuk info sepakbola terlengkap
(Fitra Iskandar, Gin Gin Tigin Ginulur)