Pensiun sebagai pemain sepakbola di usia yang relatif masih muda, 27 tahun, Djohar Arifin punya banyak ruang untuk meniti berbagai profesi. Djohar muda pernah mencoba bekerja sebagai pegawai perkebunan swasta, sesuai angan-angan masa kecilnya dan bidang ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah. Tapi otaknya tidak bisa lepas membayangkan si kulit bundar dan rumput hijau.
Akhirnya Djohar Arifin mencoba melamar pekerjaan sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara. Pekerjaan ini menurutnya akan membuatnya punya lebih banyak waktu untuk dekat-dekat dengan bola.Djohar memang akhirnya terjun lagi di sepakbola. Dia mengejar sertifikat pelatih. Dan memulai karier sebagai peracik strategi.
“Saya nikmati menjadi pelatih. Saya membawa beberapa tim mahasiswa, tapi jantung saya tidak tahan. Satu hari sebelum pertandingan, termakan pikiran saya, bagaimana harus atur strategi.Selama permainan, debaran jantung sangat tinggi. Cemas saya. Berteriak-teriak. Kalau menang? Itu selesai sementara, tapi kalau kalah, bebannya luar biasa. Dikecam sana-sini,” kisah Djohar.
Merasakan beban berat yang harus dipikulnya setiap menangani tim, Djohar nampaknya ingin peran yang lebih rileks, atau tekanannya tak sebesar ketika dia menjadi pelatih. Djohar kemudian pindah jalur, menjadi wasit. Bila biasanya hanya biasa berdiri di pinggir lapangan, Djohar pun kembali ke tengah lapangan.
Jadi wasit, katanya, tidak perlu punya beban. Seorang wasit hanya perlu melaksanakan peraturan. Siapa yang menang atau kalah, bukan persoalan yang harus dipikirkan pengadil. Yang penting, menurut Djohar, wasit bisa melakukan tugasnya sesuai arahan FIFA.
Wasit harus dekat dengan bola. Harus diusahakan jarak antara wasit dan bola, kurang lebih 10 meter. Untuk melakukan itu, Djohar cukup percaya diri. Modal staminanya, selama menjadi pemain, belum habis. Di samping terbiasa berlari-lari mengejar bola, Djohar masih rajin menjaga stamina.
“Usia 31 saya memimpin pertandingan Piala Asia. Saya juga pernah memimpin final Galatama pada tahun 1982,” kata Djohar.
Selama menjadi wasit, Djohar mengaku tidak mau main mata dengan pihak mana pun. Dia juga tidak terlalu peduli dengan tekanan dari suporter tuan rumah. Kuncinya memimpin pertandingan hanya berlaku adil, katanya. Saat menghukum pemain, Djohar tetap berusaha santai, bahkan mencabut kartu pun tetap dengan senyum.
Untuk menghindari praktik pengaturan skor, Djohar enggan terlalu dekat dengan pihak-pihak yang memang sering bergerilya mencari ofisial untuk diajak kongkalikong.
”Dengan saya, mereka tidak pernah berani dekat. Mereka memang masuk ke tubuh pengurusan wasit. Saya pernah tinggalkan satu turnamen, karena sudah kotor, mereka tahu siapa saya. Enak kok kalau jalan benar, kalau enggak benar, keluar hotel juga enggak berani. Lihat-lihat jendela terus ketakutan,” ceritanya.
Djohar baru meninggalkan korps baju hitam, setelah kampus memerlukan tenaganya lagi untuk peran yang lebih besar. Di usia 36 tahun, Djohar mendapat jabatan di kampus sebagai pembantu rektor. Latihan pun jadi berkurang. Staminanya tak lagi prima, sehingga Djohar pun memilih mengundurkan diri.
“Saya merasa tidak mampu lagi menjaga stamina dan selalu berlari agar tetap berada kurang lebih 10 meter dari bola.Saya khawatir tidak bisa lagi memimpin pertandingan dengan baik di lapangan.Akhirnya saya putuskan saya mundur, “ ujar Djohar.
Tapi sepakbola rupanya tak benar-benar ia tinggalkan. Buktinya ia kembali aktif sebagai pengurus PSSI di Sumatera Utara hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua PSSI Pengda Sumut. Nasibnya pun bergulir tak jauh-jauh dari urusan olahraga. Djohar sempat mencicipi jabatan sebagai Sekjen Koni di era Agum Gumelar dan Staf Ahli Menteri Negara Pemuda dan Olahraga sebelum akhirnya menjadi orang nomor satu di PSSI. Jabatan yang bagi Djohar mungkin tak kalah berat dari menjadi pelatih atau wasit, karena konflik PSSI saat ini menyeretnya ke posisi sulit, sebagai target kecaman pihak yang tidak puas dengan kepemimpinannya.
(Fitra Iskandar)